BANYUWANGI, KOMPAS.com - Harga gabah dan beras di Banyuwangi, Jawa Timur, bertahan tinggi hingga November ini. Tingginya harga gabah dan beras itu dipengaruhi oleh minimnya jumlah panen di daerah penghasil padi tersebut.
Dari pantauan di sejumlah pasar tradisional hingga Jumat (25/11/2011) , harga beras termurah mencapai Rp 7.800 per kg untuk kualitas medium jenis IR 64. Adapun beras kualitas super berkisar antara Rp 8.500 hingga 9.500 per kg.
Harga harga itu belum beranjak turun dari sebulan sebelumnya. Bahkan beras termurah dengan jumlah pecah bulir lebih dari 25 persen yang dulu ada di pasaran, kini tak tersedia lagi.
Dua pekan lalu masih ada yang harganya Rp 6.500 perkg, dengan pecah bulir lebih dari 25 pesen. Namun kini tak ada lagi, stok sudah habis, kata Sunardi (42) , pedagang sembako di pasar Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi.
Acim (33), pedagang beras di pasar Blambangan juga mengatakan, harga saat ini merupakan harga beras tertinggi dalam dua tahun terakhir. Pada tahun sebelumnya, harga beras hanya berkisar pada Rp 6.500-7.500 per kg.
Tingginya harga beras saat ini, menurut pengusaha penggilingan padi, disebabkan oleh tingginya harga gabah. Harga gabah di daerah Banyuwangi kini mencapai Rp 4.300 per kg. Harga itu jauh diatas harga pembelian pemerintah yang hanya Rp 3.300 per kg.
Solikin, salah satu pengusaha penggilingan padi di Rogojampi mengakui kesulitan mendapatkan gabah dari petani. Menurutnya hampir semua persawahan di Banyuwangi sudah selesai panen.
Panen hanya terjadi di sejumlah kecil kantong-kantong penghasil padi Banyuwangi, Di desa Benelan Kidul, Kecamatan Rogojampi misalnya, dari 220 hektar hanya 10 hektar yang panen, adapun sisanya masih berupa padi hijau, atau persemaian.
Di Kecamatan Kabat, bahkan hampir tak ada panen. Sawah petani masih berupa t anah olahan. Sebagian petani di Kabat memang memilih tidak menanam padi di musim kemarau lalu karena minimnya ketersediaan air dan ancaman wereng.
Kalaupun kami dapat gabah baru, harganya sudah sangat tinggi, Rp 3.800-3.900 per kg kering panen. Itu pun harus berebut dengan penggilingan lain, kata Solikin.
Pada tahun ini, jumlah luasan dan produksi padi di Banyuwangi memang berkurang. Data dari Dinas Pertanian dan Perkebunan, luasan persawahan yang dicetak sepanjang September 2010 hingga September 2011 hanya berjumlah 121.240 hektar.
Luasan itu lebih sedikit dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 122.132 hektar. Produksi padi per hektar pun menurun dari 6,4 ton per hek tar menjadi 5,8 ton per hektar akibat serangan wereng.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang