Boe/Mogensen menjadi yang terbaik setelah di final mengalahkan pasangan Korea Selatan, Ko Sun-hyun/Yoo Yeon-seong, dengan angka meyakinkan, 21-17, 21-13. Laga ganda putra juga menjadi satu-satunya partai final tanpa pemain China.
Bagi Boe/Mogensen, gelar ini merupakan yang kedua dalam ajang Premier Super Series tahun ini. Sebelum di China, mereka juara All England. Gelar ini juga menjadi penutup yang manis untuk musim ini sebelum menghadapi final Super Series yang juga akan berlangsung di Liuzhou, China, pada 14-18 Desember 2011.
Dominasi China sudah bisa terlihat sebelum partai final dimulai. Mereka sudah bisa memastikan tiga gelar karena di tiga nomor, yakni tunggal putri dan putra serta ganda putri, terjadi final sesama pemain China.
Satu gelar didapat pemain China lagi dari nomor ganda campuran. Pasangan nomor satu dunia, Zhang Nan/Zhao Yunlei, sukses menuntaskan balas dendam atas dua kekalahan beruntun di Denmark dan Perancis Terbuka dari pasangan Denmark, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen. Mereka bahkan meraih kemenangan dengan angka yang cukup meyakinkan, 21-11, 21-14.
Di ganda putri, pasangan Wang Xiaoli/Yu Yang memastikan gelar juara dengan mengalahkan kompatriotnya, Tang Jinhua/Xia Huan, 21-11 21-10.
Bagi Wang Xiaoli/Yu Yang, gelar juara ini menegaskan dominasi mereka di ganda putri. Mereka secara fenomenal menyapu bersih lima gelar turnamen Premier Super Series yang dimulai dari Korea Terbuka, All England, Indonesia, Denmark, dan China. Mereka bahkan menambah koleksi gelar juara dari turnamen Super Series, yakni di Perancis dan Hongkong.
Di tunggal putri, Wang Yihan tak perlu bekerja keras untuk meraih gelar juara. Hal ini karena kompatriotnya, Wang Xin, memutuskan mundur karena cedera lutut pada gim pertama saat dia dalam posisi tertinggal 12-18 dari Wang Yihan.
”Saat saya berupaya mengambil bola di depan net, lutut saya sudah terasa sakit dan semakin memburuk. Saya tak mau ambil risiko. Daripada akan semakin parah dan saya tidak bisa tampil dalam turnamen berikutnya,” kata Wang Xin.
Wang Yihan tampak santai menanggapi kemenangannya. Menurut Wang Yihan, jika Wang Xin tidak mundur, pertandingan pasti akan berjalan sangat menarik dan menghibur.
Kekecewaan penonton terbayar pada partai terakhir. Pertemuan dua jagoan China pada tunggal putra, Chen Long dan Lin Dan, menyuguhkan pertandingan yang menarik. Untuk memastikan gelar juara, Lin Dan sampai harus membutuhkan tujuh kali match point sebelum menuntaskan perlawanan Chen Long, 21-17, 26-24.
Bagi Lin Dan, ini merupakan gelar keduanya dalam ajang Premier Super Series. Gelar pertamanya didapat pada turnamen pembuka di Korsel.
Kemenangan ini seperti sebuah pesan buat kompetitor Lin Dan bahwa dia sudah kembali menemukan bentuk permainan terbaiknya. Sebelum juara di China, juara Olimpiade Beijing ini juga tampil sebagai kampiun di turnamen Super Series Hongkong Terbuka pekan lalu.
Yang menarik, di dua turnamen ini, Lin Dan menaklukkan rival terberatnya dari Malaysia, Lee Chong Wei. Pemain nomor satu dunia ini ditekuk Lin Dan pada babak semifinal.
Itu sebabnya Lin Dan tampil lebih rileks saat menghadapi Chen Long pada partai final China Terbuka. ”Saya memang bermain santai setelah menaklukkan Chong Wei di semifinal. Saya tidak terlalu berpikir keras untuk laga final karena gelar juara sudah pasti milik China. Namun, pada pertengahan gim kedua, saya mulai main tergesa-gesa untuk menyelesaikan pertandingan,” kata Lin Dan.
Turnamen di Shanghai yang berhadiah total 350.000 dollar AS ini adalah turnamen terakhir dari 12 Super Series. Hasil ini juga melengkapi poin buat pemain untuk tampil di turnamen final Super Series di Liuzhou, China, 14-18 Desember.