Hingga pukul 21.00 semalam, jumlah korban tewas bersama runtuhnya jembatan tercatat 5 orang, korban yang diduga hilang berdasarkan laporan keluarga 33 orang, serta 40 orang mengalami luka berat dan ringan.
Empat korban tewas yang ditemukan lebih dulu adalah M Farius (19), Agus (25), Fadlan (16), dan Alisiah (1 tahun 6 bulan). Seluruhnya adalah warga Tenggarong. Korban tewas kelima bernama Iskandar, ditemukan Minggu malam mengapung di Sungai Mahakam. Pencarian sebenarnya sudah dihentikan pada Minggu pukul 17.00 Wita dan akan dilanjutkan Senin pagi ini.
”Kedalaman Mahakam itu 30-40 meter. Namun, mungkin bisa lebih dalam lagi karena bisa saja belum semua sisi sungai ditelusuri tim. Yang menjadi sangat berbahaya, walau arus di permukaan tampak tenang, arus bawahnya deras,” kata Darmansyah, Kepala Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.
”Yang jelas ada unsur kelalaian karena sampai ada korban. Tinggal tindak lanjut dari kelalaian itu apa,” ujar Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur Inspektur Jenderal Bambang Widaryatmo di Tenggarong, Minggu.
Polisi telah meminta keterangan dari tujuh orang, yaitu kuasa pengguna anggaran, dua pekerja, pejabat pelaksana teknis kegiatan, dan tiga korban yang selamat. ”Kami urutkan peranan masing-masing. Kami kumpulkan bukti dulu, dokumen, semua kami pelajari. Nanti akan menyentuh semua,” kata Bambang, yang menemani Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Sutarman. Mabes Polri mengirim tim penyidik terpadu beranggotakan 22 orang dari berbagai keahlian.
Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari mengakui, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara terbuka untuk diperiksa terkait dengan runtuhnya jembatan tersebut. ”Kami pasti ingin tahu kenapa ada kejadian ini. Apakah karena kesalahan teknis dan sebagainya karena saat itu memang sedang direhabilitasi,” ujar Rita.
Jembatan Kartanegara, yang membentang sepanjang 710 meter melewati Sungai Mahakam, ambruk saat jembatan itu masih berumur 10 tahun. ”Usianya semestinya sampai 25 tahun,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kutai Kartanegara Didi Ramyadi. Namun, Didi menolak memberikan komentar lebih jauh tentang penyebab ambruknya jembatan.
Jembatan Kartanegara, yang dibangun dengan biaya Rp 150 miliar, diresmikan penggunaannya tahun 2001. Kontraktor pembangunannya adalah PT Hutama Karya, dengan konsultan perencanaan Perentjana Djaja. Jembatan gantung ini digagas Bupati AM Sulaiman dan diselesaikan pada masa jabatan Bupati M Syaukani, yang juga ayah Rita Widyasari.
Saat meninjau lokasi, Minggu dini hari, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto menegaskan, untuk mengetahui penyebab runtuhnya jembatan, Kementerian Pekerjaan Umum menurunkan tim dari badan penelitian. ”Saya belum mendapat laporan teknis sehingga belum bisa melihat dugaan-dugaan,” kata Djoko. Saat runtuh, jembatan sedang diperbaiki. Namun, Djoko belum bisa mengaitkan perbaikan dengan penyebab runtuhnya jembatan.
Jamaludin (40), salah satu korban selamat, menjelaskan, lalu lintas jembatan dalam kondisi macet karena dibuat satu jalur secara bergantian terkait perbaikan tersebut.
Menurut Jamaludin, sebelum jembatan runtuh, kabel penahan jembatan goyang, kemudian diikuti suara gemuruh. ”Setelah itu, jembatan langsung ambruk. Kejadiannya cepat sekali. Saya tidak sempat berbuat apa-apa,” tutur Jamaludin, yang ikut terjatuh bersama sepeda motornya.
Darmansyah menambahkan, korban luka dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) AM Parikesit, Tenggarong; RSUD AW Sjahranie, Samarinda; dan RSUD Dirgahayu, Samarinda.
Walau laporan orang hilang mulai berdatangan, jumlah korban hilang belum bisa dipastikan karena kendaraan yang tercebur ke sungai pun belum terdata. ”Namun, kami coba lihat 2-3 hari lagi. Jika pengendara motor yang tercebur, 2-3 hari biasanya mengapung di permukaan. Namun, yang susah jika yang tercebur adalah mobil karena jasad akan tertahan di dalam mobil,” tutur Darmasyah.
Saat menengok korban di RSUD AM Parikesit, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menegaskan, seluruh biaya perawatan rumah sakit korban ditanggung oleh negara.
Dari keterangan korban yang selamat, tercatat 2 bus, 2 truk, 4 mobil, dan lebih dari 10 sepeda motor ikut tercebur.
Hingga Minggu malam, berdasarkan data Badan SAR Nasional (Basarnas), terdapat 5 orang meninggal, 40 orang luka-luka, dan 33 orang dinyatakan hilang.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Daryatmo mengakui, pencarian korban belum dapat dilanjutkan. Kondisi reruntuhan jembatan, termasuk tiang pancang, masih labil. Jarak pandang penyelaman pun nol alias tidak terlihat. Pihaknya menunggu keputusan dari tim Kementerian Pekerjaan Umum.
Basarnas mengerahkan 31 penyelam, juga bantuan enam alat berat, untuk mengangkat badan jembatan yang beratnya 1.620 ton. Status darurat lokasi ditetapkan hingga sembilan hari mendatang, sejak 27 November. Terhadap para korban tewas atau luka-luka, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara akan memberikan santunan dan membiayai ongkos rumah sakit.
Anggota Komisi X DPR dari Daerah Pemilihan Kalimantan Timur, Hetifah Sjaifudian, menyatakan, runtuhnya jembatan tersebut merupakan kegagalan dalam penerapan standar keselamatan.
”Harus ada pihak yang bertanggung jawab. Perlu segera dipikirkan pembangunan kembali jembatan agar urat nadi perekonomian cepat pulih,” katanya. (ILO/PRA/BRO)