Kegempaan

Pemetaan Risiko Gempa

Kompas.com - 28/11/2011, 04:03 WIB

YUNI IKAWATI

Banyak kota besar di Indonesia di kawasan pantai. Daerah itu berisiko dilanda gempa besar disertai tsunami karena posisinya dekat sumber gempa, yaitu zona subduksi lempeng aktif. Berkembangnya infrastruktur dan jumlah penduduk perkotaan menuntut keberadaan peta risiko gempa mikro. 

Gempa besar di Banda Aceh, Yogyakarta, dan Padang menggugah kesadaran banyak pihak, betapa rapuh kota-kota di Indonesia. Nasib sama sangat mungkin terjadi di sejumlah kota lain di Indonesia.

Peta rawan gempa yang disusun Badan Geologi Kementerian ESDM telah menunjukkan bahwa wilayah Nusantara ini dikepung sumber gempa besar dari banyak penjuru. Lokasinya berhadapan dengan zona subduksi lempeng samudra yang aktif, yang kecepatan pergerakannya 7-11 sentimeter per tahun.

Jika gempa besar terjadi di kota-kota besar, hampir bisa dipastikan jatuh korban jiwa dalam jumlah besar. Sebab, kota-kota besar di Indonesia memiliki tingkat kerentanan tinggi. Kota-kota tersebut memiliki banyak kawasan padat penduduk dan infrastruktur terbangun yang juga rentan.

Dampak bencana ini mau tidak mau harus diminimalkan. Salah satu upaya paling awal yang ditempuh adalah menyusun peta risiko gempa bumi skala mikro.

”Peta ini nantinya diharapkan menjadi acuan pemerintah daerah, pengusaha, dan masyarakat umum dalam melaksanakan tata ruang dan pemanfaatan lahan,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sri Woro B Harijono pada Workshop Penyusunan Peta Risiko Gempa Bumi Skala Mikro di Jakarta, pekan lalu.

Penyusunan peta tersebut dibuat berdasarkan Surat Keputusan Nomor 41 Tahun 2011 tentang Tim Penyusunan Peta Risiko Gempa Bumi Skala Mikro. Tim tersebut terdiri dari unsur Kementerian Kesra, Kementerian PU, Kementerian Ristek, BMKG, Badan Geologi, BPPT, Bakosurtanal, BNPB, ITB, UI, dan Pemprov DKI Jakarta.

Kegiatan tim tersebut mencakup empat bidang, yaitu survei geoteknik, seismo teknik, mitigasi bencana, dan pengolahan data. Program penyusunan peta berlangsung tahun 2011 hingga 2014.

Lima kota terpilih

Pada tahap awal penyusunan peta risiko gempa bumi skala mikro dipilih lima kota besar, yaitu Jakarta, Padang, Denpasar, Manado, dan Jayapura. Kota-kota ini dipilih karena memiliki tingkat kegempaan dan kerentanan tinggi serta mewakili zona wilayah geografis.

Jakarta merupakan kota yang paling awal dipetakan. Menurut Masyhur Irsyam selaku ketua tim pelaksana pemetaan tersebut, ancaman gempa bumi di Jakarta berasal dari beberapa sumber, antara lain zona subduksi Lempeng Indoaustralia di Selat Sunda, Sesar Cimandiri, Sesar Lembang, dan Sesar Semangko. Subduksi lempeng saja berpotensi menimbulkan intensitas kegempaan 8,4-8,7 skala Richter.

Untuk mengetahui tingkat kerentanan dilakukan pengeboran tanah hingga kedalaman 400 meter. Tujuannya, mengukur percepatan energi gempa hingga ke permukaan tanah. Pengeboran akan dilakukan di lima titik di tiap wilayah kota di Jakarta.

Di Jakarta, pusat pengeboran dilakukan di kantor BMKG di Kemayoran, sedangkan untuk wilayah Jakarta Selatan di kantor Kementerian PU di Lebak Bulus. Pengeboran dilaksanakan hingga mencapai batuan dasar. Berdasar survei terdahulu, batuan dasar di wilayah Jakarta berada pada kedalaman 200-400 meter.

Pada kedalaman tersebut dipasang alat akselerometer yang akan mencatat percepatan energi gempa ke permukaan. Pada tanah lunak di atas batuan dasar, energi gempa akan mengalami penguatan atau teramplifikasi. Selain itu, di permukaan juga akan dipasang serangkaian alat mikrotremor.

Dengan membandingkan kegempaan pada lapisan dalam dan permukaan, akan diketahui percepatan gempa di setiap lokasi. Data ini kemudian dapat menjadi acuan penyusunan panduan (building code) untuk merancang kekuatan struktur bangunan.

Tugu Monas rentan

Penelitian sementara menunjukkan, kawasan tengah sekitar Tugu Monas hingga wilayah utara merupakan tanah lunak, yang dapat mengalami amplifikasi energi gempa. ”Gedung-gedung di kawasan tersebut perlu penguatan struktur, disesuaikan hasil survei seismik nanti,” papar Masyhur, yang juga Kepala Pusat Penelitian Mitigasi Bencana ITB.

Bagaimana dengan empat kota lain—Padang, Denpasar, Manado, dan Jayapura—yang akan dipetakan dalam empat tahun mendatang?

Padang, Jakarta, dan Denpasar dipengaruhi subduksi Lempeng Indoaustralia di selatan terhadap Lempeng Eurasia. Adapun Manado dan Jayapura terancam subduksi Lempeng Pasifik di utara terhadap Lempeng Eurasia.

Untuk menyusun peta risiko ini dilakukan pula pendataan demografi dan infrastruktur yang ada. Dengan survei tersebut akan diketahui kawasan mana yang paling rentan dan perlu mendapat perhatian dalam mengantisipasi gempa bumi kuat.

Namun, dari semua kegiatan ilmiah, yang tidak kalah penting adalah respons pemerintah pusat, pemerintah daerah, kalangan pengusaha, dan masyarakat umum. Merekalah tujuan sekaligus penentu untuk meminimalisasi dampak buruk gempa.

Menurut data, dari 230 juta penduduk Indonesia, sekitar 98 juta orang di antaranya berada di kawasan rawan gempa. Nah?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau