YUNI IKAWATI
Gempa besar di Banda Aceh, Yogyakarta, dan Padang menggugah kesadaran banyak pihak, betapa rapuh kota-kota di Indonesia. Nasib sama sangat mungkin terjadi di sejumlah kota lain di Indonesia.
Peta rawan gempa yang disusun Badan Geologi Kementerian ESDM telah menunjukkan bahwa wilayah Nusantara ini dikepung sumber gempa besar dari banyak penjuru. Lokasinya berhadapan dengan zona subduksi lempeng samudra yang aktif, yang kecepatan pergerakannya 7-11 sentimeter per
Jika gempa besar terjadi di kota-kota besar, hampir bisa dipastikan jatuh korban jiwa dalam jumlah besar. Sebab, kota-kota besar di Indonesia memiliki tingkat kerentanan tinggi. Kota-kota tersebut memiliki banyak kawasan padat penduduk dan infrastruktur terbangun yang juga rentan.
Dampak bencana ini mau tidak mau harus diminimalkan. Salah satu upaya paling awal yang ditempuh adalah menyusun peta risiko gempa bumi skala mikro.
”Peta ini nantinya diharapkan menjadi acuan pemerintah daerah, pengusaha, dan masyarakat umum dalam melaksanakan tata ruang dan pemanfaatan lahan,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sri Woro B Harijono pada Workshop Penyusunan Peta Risiko Gempa Bumi Skala Mikro di Jakarta, pekan lalu.
Penyusunan peta tersebut dibuat berdasarkan Surat Keputusan Nomor 41 Tahun 2011 tentang Tim Penyusunan Peta Risiko Gempa Bumi Skala
Kegiatan tim tersebut mencakup empat bidang, yaitu survei geoteknik, seismo teknik, mitigasi bencana, dan pengolahan data. Program penyusunan peta berlangsung tahun 2011 hingga 2014.
Pada tahap awal penyusunan peta risiko gempa bumi skala mikro dipilih lima kota besar, yaitu Jakarta, Padang, Denpasar, Manado, dan Jayapura. Kota-kota ini dipilih karena memiliki tingkat kegempaan dan kerentanan tinggi serta mewakili zona wilayah geografis.
Jakarta merupakan kota yang paling awal dipetakan. Menurut Masyhur Irsyam selaku ketua tim pelaksana pemetaan tersebut, ancaman gempa bumi di Jakarta berasal dari beberapa sumber, antara lain zona subduksi Lempeng Indoaustralia di Selat Sunda, Sesar Cimandiri, Sesar Lembang, dan Sesar Semangko. Subduksi lempeng saja berpotensi menimbulkan intensitas kegempaan 8,4-8,7 skala Richter.
Untuk mengetahui tingkat kerentanan dilakukan pengeboran tanah hingga kedalaman 400 meter. Tujuannya, mengukur percepatan energi gempa hingga ke permukaan tanah. Pengeboran akan dilakukan di lima titik di tiap wilayah kota di Jakarta.
Di Jakarta, pusat pengeboran dilakukan di kantor BMKG di Kemayoran, sedangkan untuk wilayah Jakarta Selatan di kantor Kementerian PU di Lebak Bulus. Pengeboran dilaksanakan hingga mencapai batuan dasar. Berdasar survei terdahulu, batuan dasar di wilayah Jakarta berada pada kedalaman 200-400 meter.
Pada kedalaman tersebut dipasang alat akselerometer yang akan mencatat percepatan energi gempa ke permukaan. Pada tanah lunak di atas batuan dasar, energi gempa akan mengalami penguatan atau teramplifikasi. Selain itu, di permukaan juga akan dipasang serangkaian alat mikrotremor.
Dengan membandingkan kegempaan pada lapisan dalam dan permukaan, akan diketahui percepatan gempa di setiap lokasi. Data ini kemudian dapat menjadi acuan penyusunan panduan (building code) untuk merancang kekuatan struktur bangunan.
Penelitian sementara menunjukkan, kawasan tengah sekitar Tugu Monas hingga wilayah utara merupakan tanah lunak, yang dapat mengalami amplifikasi energi gempa. ”Gedung-gedung di kawasan tersebut perlu penguatan struktur, disesuaikan hasil survei seismik nanti,” papar Masyhur, yang juga Kepala Pusat Penelitian Mitigasi Bencana ITB.
Bagaimana dengan empat kota lain—Padang, Denpasar, Manado, dan Jayapura—yang akan dipetakan dalam empat tahun mendatang?
Padang, Jakarta, dan Denpasar dipengaruhi subduksi Lempeng Indoaustralia di selatan terhadap Lempeng Eurasia. Adapun Manado dan Jayapura terancam subduksi Lempeng Pasifik di utara terhadap Lempeng Eurasia.
Untuk menyusun peta risiko ini dilakukan pula pendataan demografi dan infrastruktur yang ada. Dengan survei tersebut akan diketahui kawasan mana yang paling rentan dan perlu mendapat perhatian dalam mengantisipasi gempa bumi kuat.
Namun, dari semua kegiatan ilmiah, yang tidak kalah penting adalah respons pemerintah pusat, pemerintah daerah, kalangan pengusaha, dan masyarakat umum. Merekalah tujuan sekaligus penentu untuk meminimalisasi dampak buruk gempa.
Menurut data, dari 230 juta penduduk Indonesia, sekitar 98 juta orang di antaranya berada di kawasan rawan gempa. Nah?