JAKARTA, KOMPAS.com - Persekutuan Gereja-gereja Papua mengharapkan agar Kepolisian RI dan Tentara Nasional Indonesia tidak melakukan tindakan represif saat melakukan pengamanan terhadap perayaan hari ulang tahun Organisasi Papua Merdeka yang jatuh pada 1 Desember nanti.
"Dalam arti, kalau saat 1 Desember itu misalnya naik bendera di mana-mana di Papua, kita berharap pemerintah, dalam hal ini Polri dan TNI tidak represif menanganinya secara berlebihan," ujar anggota PGGP Wellem Maury di Kantor PGI, Jakarta, Senin (28/11/2011).
Wellem menuturkan, berdasarkan pengalaman terdahulu, Polri dan TNI cenderung selalu menggunakan cara berlebihan ketika mengamankan acara yang berkaitan dengan OPM. Padahal, menurutnya, meskipun nantinya pada saat hari perayaan tersebut banyak diwarnai pengibaran bendera, belum tentu hal tersebut akan dijadikan ajang pembentukan negara Papua merdeka.
"Meskipun naik seratus bendera di Papua hari ini, besok pagi toh belum tentu merdeka. Jadi masih ada jalan keluar untuk dilaksanakan pengamanan itu. Tidak harus dengan cara represif, kan rugi sendiri," kata Wellem.
Seperti diberitakan, Polri akan memperketat pengamanan menjelang perayaan hari ulang tahun Organisasi Papua Merdeka yang jatuh pada 1 Desember 2011 nanti. Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution mengatakan, salah satun upaya memperketat pengamanan itu yakni dengan mengirimkan tambahan pasukan ke Bumi Cenderawasih tersebut.
Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kekacauan seperti yang terjadi pada Kongres Rakyat Papua III di Abepura, Jayapura, di mana terjadi perlawanan anggota Kongres terhadap polisi yang membubarkan acara tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang