TENGGARONG, KOMPAS.com - Ketua Tim Disaster Victim Identification (DVI) Kaltim AKBP Dr. Budi Heryadi mengimbau warga di sekitar Sungai Mahakam untuk segera menginformasikan kepada aparat, jika kebetulan menemukan jenazah korban runtuhnya jembatan Kutai Kertanegara di wilayah mereka.
Budi pun meminta warga diminta untuk tidak mengusik jenazah yang ditemukan, dan menunggu hingga petugas identifikasi datang. Sebab, seluruh properti yang ada pada jenazah merupakan petunjuk untuk melakukan identifikasi korban.
Sebelumnya, Senin (28/11/2011) malam, Budi sempat memaparkan tentang metode identifikasi yang dilakukan oleh DVI. DVI ini merupakan sistem identifikasi dengan jumlah korban yang banyak. Khusus kasus di Tenggarong ini, DVI diturunkan untuk mengenali identitas jenazah yang telah rusak dan sulit dikenali.
Untuk mengidentifikasi jenazah yang mulai membusuk, DVI menggunakan teknik antemortem atau sistem pengenalan jenazah menggunakan sidik jari dan tanda-tanda yang diberikan oleh keluarga korban. Semua data dikumpulkan oleh DVI kemudian dicocokkan oleh petugas. "Begitu semua datanya match (cocok), jenazah langsung kami serahkan kepada keluarganya masing-masing," kata Budi.
Budi mencontohkan, ke delapan jenazah yang ditemukan terakhir, sudah dalam kondisi rusak pada kulit, serta mulai mengalami penggelembungan di bagian perut. "Kulitnya sudah mengelupas, kemudian berwarna kebiruan. Di bagian perut juga sudah mengalami pembusukan ditandai dengan penggelembungan," jelasnya.
Budi sempat mengungkapkan, sebagian besar korban tewas karena tenggelam. Namun, terdapat beberapa korban yang mengalami luka pada kepala, diduga akibat benturan. "Rata-rata meninggal karena tenggelam, tapi ada yang mengalami benturan sebelumnya," kata Budi.
Sejauh ini, tim telah berhasil mengidentifikasi 13 korban tewas dari 18 korban yang ditemukan dalam musibah tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang