KUDUS, KOMPAS.com - Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia atau DPN APTRI menilai Kementerian Perdagangan kurang cermat menghitung stok gula nasional 2011. Hal itu menyebabkan pemerintah harus mengimpor gula sebanyak 300-500 ribu ton pada awal 2012.
"Berdasarkan penghitungan DPN APTRI, stok gula nasional pada 2011 sebanyak 3,495 juta ton. Stok itu termasuk rembesan gula rafinasi dan gula selundupan," kata Wakil Sekretaris Jenderal DPN APTRI M Nur Khabsyin, Selasa (29/11/2011) di Kudus, Jawa Tengah.
Pernyataan itu menanggapi rencana impor gula yang akan dilakukan Kementerian Perdagangan pada awal 2012. Beberapa waktu lalu, Wakil Kementerian Perdagangan Bayu Krisnamurthi menyebutkan pasar dalam negeri kemungkinan kekurangan pasokan gula 300-500 ribu ton pada awal 2012. Pasalnya, produksi dalam negeri merosot.
Dari target 2,7 juta ton gula hanya terealisasi 2,3 juta ton - 2,4 juta ton, sehingga masih ada kekurangan stok gula. Menurut Nur Khabsyin, pemerintah tidak menghitung jumlah gula selundupan dan rembesan gula rafinasi yang beredar di pasar dalam negeri.
APTRI mencatat ada 400.000 ton gula rafinasi rembesan dan ada 720.000 ton gula selundupan yang masuk melalui Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, dan Aceh. Jika jumlah itu ditambahkan dengan realisasi produksi gula nasional pada 2011, sebanyak 2,150 juta ton, dan izin impor raw sugar (gula kristal mentah) 225.000 ton, maka stok gula 2012 mencukupi. Totalnya adalah 3,495 ton.
"Lantaran stok gula mencukupi, APTRI berharap pemerintah tidak perlu mengimpor gula. Hal itu justru akan mematikan harga gula petani yang tahun ini hanya dihargai Rp 8.500 per kilogram. Padahal tahun lalu bisa tembus Rp 9.500 per kilogram," kata Khabsyin.
Khabsyin menambahkan, daripada mengimpor pemerintah lebih baik menjalankan program penambahan lahan tebu seluas 600.000 hektar. Seandainya ada perluasan lahan minimal 100.000 hektar pada tahun depan, pasti akan ada tambahan produksi gula sebanyak 500.000 ton.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang