JAKARTA, KOMPAS.com- Sudah menjadi rahasia umum, setiap tanggal 1 Desember, hampir selalu terjadi insiden keamanan seperti pengibaran bendera Bintang Kejora yang tak diinginkan. Ini karena pada tanggal tersebut diperingati oleh beberapa kalangan sebagai Hari Kemerdekaan Papua (1 Desember 1961).
Tahun 2011 merupakan waktu istimewa karena tepat 50 tahun "Kemerdekaan Papua". "Tanggal 1 Desember sudah mendapat perhatian luar biasa dari banyak pihak di Indonesia dan dunia, tidak heran jika pemerintah Indonesia melalui aparat keamanan sudah memberikan perhatian ekstra ketat terhadap segala kemungkinan perkembangan situasi pada hari Kamis besok," ucap Yan Christian Warinussy, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Advokat Indonesia (DPP PERADIN), Selasa (29/11/2011).
Yan yang juga Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari di Provinsi Papua Barat mengatakan, 1 Desember seperti berhasil "menyihir" segenap aktivitas masyarakat di Tanah Papua. Baik orang asli Papua dan non-Papua seolah harus menghentikan dan atau menunda penyelenggaraan aktivitas sosial-ekonomi dan politik maupun pendidikan dan rutinitasnya pada hari tersebut.
"Ini semua disebabkan keberhasilan strategi memprovokasi rakyat yang awam untuk menjadi terpancing dan ikut hanyut dalam mainan skenario pihak tertentu dengan memainkan aksinya melalui selebaran maupun SMS yang diedarkan secara bebas kepada rakyat di tanah Papua," ucapnya.
Ia mencontohkan, di beberapa tempat seperti di Manokwari, dalam seminggu ini terjadi keresahan. Sejumlah ibu-ibu asal Papua maupun non-Papua mendatangi toko-toko dan supermarket untuk berbelanja bahan pokok seperti beras, gula, dan bahan makanan serta minuman dengan alasan harus ada persiapan karena nanti tanggal 1 Desember Papua Merdeka dan akan ada kekacauan.
"Ini semua omong kosong besar yang sudah diciptakan oleh kalangan yang sudah kami ketahui. Berkenaan dengan itu, saya ingin menghimbau kepada seluruh rakyat di Tanah Papua, orang asli Papua maupun Non-Papua, agar tidak terpancing dengan berbagai isu murahan yang diedarkan di SMS oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab tersebut," ucapnya.
Adapun 1 Desember adalah tanggal yang memang setiap tahun dalam lima tahun terakhir ini seringkali diperingati oleh orang-orang asli Papua sebagai Hari Kemerdekaan Papua. Tetapi dalam kenyataannya, orang asli Papua tidak pernah melakukan kekerasan atau tindakan anarkis, melainkan mereka hanya berdemo dan long march sambil menyampaikan orasi-orasi politik semata.
Ia melihat aspirasi ini dijamin penuh sebagai bentuk penyampaian pendapat atau ekspresi yang semuanya dijamin dalam Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia. "Bahkan khususnya mengenai hak menentukan nasib sendiri (self determination) juga bagi orang asli Papua juga sudah diatur di dalam Konvensi Internasional tentang Hak Suku-suku Asli dan masyarakat Pribumi di negara-negara Merdeka," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang