Fit and proper test capim kpk

Abdullah Ingin Mati Syahid

Kompas.com - 29/11/2011, 14:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Abdullah Hehamahua, calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku ingin mati syahid ketika memberantas korupsi. Karena alasan itu lah Abdullah mendaftar menjadi capim KPK, tidak hanya sebagai penasihat KPK.

Hal itu dikatakan Abdullah ketika fit and proper test capim KPK di Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, Selasa (29/11/2011).

Abdullah menjelaskan, meski ada kesempatan ketika KPK periode pertama, ia tak mau mendaftar sebagai capim KPK. Ketika periode kedua, ia juga enggan mendaftar meskipun dipaksa oleh pejabat KPK.

"Periode ketiga ini, seminggu setelah pengumuman (pembukaan pendaftaran capim) saya tidak mau. Tinggal lima hari, salah seorang penasihat KPK datang ke saya. Dia bilang Pak Abdullah harus daftar," kata Abdullah.

Awalnya, Abdullah menolak permintaan itu. Keyakinan dia, jangan memberi jabatan kepada orang yang meminta. Menurut dia, mendaftar adalah bentuk meminta. Berbeda ketika kondisi perang diperbolehkan meminta.

Namun, pandangannya berubah ketika dia membaca hadist tentang seorang pria tua dengan kondisi cacat bersikeras meminta kepada Nabi Muhammad untuk ikut perang Uhud. Akhirnya, pria itu mati syahid.

"Besoknya saya ke kantor. Saya bilang 'Pak Chandra (Hamzah), Pak Ade (Rahardja), semua ayo daftar (capim)'. Saya ditanya, 'kenapa, Anda kan tidak setuju'. Ini dalam keadaan perang. Korupsi sudah merupakan perang luar biasa," cerita Abdullah.

Setelah itu, dia menyampaikan kepada keluarganya yang tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia. "Saya katakan, Bapak mau syahid. Kaget anak saya, ada apa? Ini persoalan korupsi," katanya.

"Jadi saya memang siap untuk syahid. Saya ingin meninggal umur 63 tahun sesuai sunah, tapi Allah memberi bonus ke saya. Sehingga dalam waktu sisa empat tahun, kalau diberi amanat, saya akan mati dalam memberantas korupsi. Bukan mati di tempat tidur. Apakah ditembak, apakah dikerjain koruptor. Itu niat saya," tambah dia disambut tepuk tangan para anggota dan tamu.

Karena alasan itu Abdullah menyerahkan hartanya ke istri. "Semua harta saya atas nama istri saya karena saya tidak tahu kapan meninggal. Hanya mobil saja atas nama saya," pungkas Abdullah menanggapi pertanyaan anggota mengapa hartanya atas nama istri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau