Pengusaha Indonesia Menyiasati Krisis Yunani

Kompas.com - 29/11/2011, 15:33 WIB

ATHENA, KOMPAS.com - Bertahan di tengah krisis keuangan yang melanda Yunani bukan hal yang mudah bagi rakyat negeri itu. Seperti yang dialami sejumlah perantau asal Indonesia yang membuka bisnis di negeri para dewa itu.

Salah satunya adalah Ramadhani yang membuka toko selimut di ibukota Yunani, Athena. Krisis menyebabkan omzetnya turun hingga 50 persen. Saat ini ia berusaha menjaga agar uangnya tetap berputar.

"Orang tak punya kerjaan, datang ke saya memohon-mohon, untuk mendapatkan selimut dengan harga paling rendah, saya ga tega, kalau ada empat atau lima orang bagaimana?"

Satu hal yang disyukurinya di saat seperti ini adalah dia tidak memiliki utang di bank. "Coba bayangkan kalau saya punya utang, dengan bunga yang sangat tinggi. Bank-bank Yunani selalu mendekati orang-orang yang punya usaha termasuk saya. Namun saya tidak termakan oleh tawaran mereka. Kalau kita bergantung dengan bank, kita akan mati," tukas perempuan yang akrab dipanggil Dhani itu.

Salah satu siasat bisnisnya di saat krisis seperti ini adalah tidak menjual barang dengan kualitas tinggi. Sebab harga jual barang berkualitas tinggi pasti mahal. Apalagi saat ini Yunani menarik pajak cukup tinggi.

“Kalau selimut-selimut itu tidak laku ya saya simpan untuk musim dingin selanjutnya.”

Lain lagi dengan yang dialami Hartati Nurwijaya. Usaha tour and travel yang didirikannya November tahun lalu bernasib baik. Badai krisis menimpa Yunani justru memberinya keuntungan karena turunnya harga-harga akomodasi di negara itu.

Hartati yang sudah sejak tahun 2000 tinggal di Yunani mengaku usaha travelnya itu meningkat ketika musim panas tahun ini. “Yunani punya pemandangan bagus, matahari selalu ada. Ketika ada krisis ekonomi, harga-harga hotel dan akomodasi lainnya menurun drastis. Harga hotel bintang lima misalnya jauh lebih murah dibanding harga di negara-negara Eropa barat lainnya.”

Menurut Hartati, saat musim panas (Juli-Agustus) banyak turis dari Indonesia. Sebagai operator ia hanya melemparkan paket-paket tawarannya ke biro-biro perjalanan di Indonesia. Harga satu paket yang paling murah untuk berwisata ke Yunani menurut Hartati ada yang hanya 400 euro.

“Selain itu karena banyaknya pemogokan, tak adanya kendaraan umum, maka turis-turis sebetulnya lebih memilih perjalanan yang diorganisir. Jadi tidak terpengaruh oleh pemogokan angkutan umum di Yunani,” demikian lulusan Fisipol Universitas Gajah Mada Yogyakarta tersebut.

Memasuki musim dingin seperti saat ini, kata Hartati, jumlah turis memang turun. Namun dia bisa menyiasatinya dengan menawarkan paket lain. Wisata ke Turki, misalnya.

Kendati demikian ada pula keuntungan bagi Indonesia dengan adanya krisis keuangan di Yunani, seperti dikatakan oleh Cahya Sumaningsih dari bagian ekonomi, KBRI di Athena.

Menurut Cahya, krisis Yunani justru meningkatkan minat investor Yunani untuk menanamkan modalnya di Indonesia. “Nah saya sudah menerima beberapa kali permintaan mengenai bagaimana berivenstasi di Indonesia. Mereka kebanyakan berasal dari sektor perhotelan dan ingin membuka usaha di Bali dan Lombok."

Kecenderungan itu menurut Cahya cukup positif buat Indonesia, karena mereka tidak aman untuk menanamkan modal di Yunani. “Sementara likuiditas perbankan di sini saja masih tidak bisa dijamin.”

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau