BITUNG, KOMPAS.com -- Lebih seratus kapal ikan pajeko milik nelayan di Kota Bitung, Sulawesi Utara, mogok melaut, Selasa (29/11/2011). Pajeko berukuran 6 GT yang sebagian bermesin tempel diparkir di Dermaga Perikanan Bitung.
Ketua Himpunan Pengusaha Kecil Nelayan Bitung Jefry Sagune mengemukakan, nelayan sangat berharap pemerintah menyediakan minyak tanah dengan harga murah untuk kebutuhan mereka melaut.
"Kami terus berjuang agar minyak tanah tersedia dan murah. Kami butuh minyak tanah murah seperti yang berlaku sekarang ini di sejumlah pangkalan dengan harga jual Rp 3.500 per liter," kata Jefry.
Menurut Jefry, sejumlah perwakilan nelayan Bitung telah berangkat ke Jakarta menemui sejumlah pemangku kepentingan, antara lain PT Pertamina. "Nelayan tak berdaya dengan harga minyak seperti ini," ujarnya.
Wali Kota Bitung Hanny Sondakh mengatakan, pihaknya telah menyediakan minyak tanah untuk dibeli nelayan dan pemilik pajeko sebanyak 15.000 liter dengan harga Rp 9.000 per liter. "Masalahnya, nelayan ingin harga minyak tanah lebih murah," katanya.
Dengan harga minyak tanah Rp 9.000, menurut Jefry, nelayan tidak memiliki untung apabila hasil tangkapan sedikit. Kemampuan menangkap ikan kapal pajeko di bawah 10 ton, apabila dikonversi dengan harga ikan Rp 10.000 per kilogram maka nilai yang didapat tak sebanding dengan modal membeli minyak tanah.
"Sekali melaut kapal pajeko membutuhkan minyak tanah sebanyak 200 litar sampai 400 liter," ungkapnya.
Aspek lain yang turut memengaruhi nilai jual ikan nelayan karena tangkapan ikan oleh kapal-kapal ikan di atas 30 GT melimpah di Kota Bitung, sementara daya beli unit pengolahan ikan di Bitung turun.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang