MADIUN, KOMPAS.com - Kesadaran petani untuk mengimplementasikan pola pemupukan yang berimbang guna mengembalikan kesuburan tanah dan meningkatkan hasil produksi, di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, meningkat.
Bersamaan dengan itu, perilaku petani juga berubah. Mereka tidak lagi tergantung pada pupuk anorganik, melainkan beralih menggunakan pupuk organik.
Fenomena itu setidaknya terpotret dari pantauan lapangan selama musim tanam penghujan 2011, yang berlangsung sejak awal November 2011.
Banyak manfaat yang diperoleh petani. Selain hemat biaya pembelian pupuk, tanah yang sebelumnya jenuh akibat pencemaran pupuk anorganik atau juga disebut pupuk kimia, berangsur pulih dan diharapkan menjadi subur.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Madiun, Suharno, Selasa (29/11/2011), mengatakan, sudah lebih dari 60 persen petani yang melakukan pola pemupukan berimbang. Sebelumnya, baru 20 persen petani yang menerapkannya.
Pemupukan berimbang merupakan metode pemberian pupuk, sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kondisi tanah.
Di Madiun, kebutuhan pupuk satu kecamatan dengan kecamatan lain berbeda, sesuai dengan kondisi tanah. Sebagai gambaran, di Kecamatan Wonoasri misalnya, penggunaan pupuk phonska lebih dominan dibandingkan urea. Areal sawah di kecamatan itu minim kandungan unsure Nitrogen, Phospat, dan Kalium.
Sedangkan di wilayah Madiun selatan yang kondisi demografinya dataran tinggi, petani padi lebih dominan menggunakan SP (Super Phospate) -36. Kandungan phospat di kawasan itu sangat dominan yakni 46 persen.
Pergeseran perilaku petani dalam pemupukan dibenarkan oleh Distributor Petrokimia Gresik di Kecamatan Wonoasri Koperasi Unit Desa Sri Mulyo.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang