Laptop Wi-Fi Berpotensi Merusak Sperma?

Kompas.com - 30/11/2011, 10:07 WIB

KOMPAS.com — Bila Anda pria yang gemar berselancar menggunakan laptop yang dilengkapi wi-fi, tak ada salahnya menyimak temuan para ahli yang satu ini.

Riset terbaru mengindikasikan penggunaan laptop yang dilengkapi wi-fi dapat mengancam kesuburan pria. Penelitian awal yang dipublikasi jurnal Fertility and Sterility menyatakan, koneksi wi-fi pada laptop berpotensi mengancam kualitas sperma.

Hasil percobaan  di laboratorium dengan cara memaparkan sinyal wi-fi di dekat sperma menunjukkan, motilitas sel-sel sperma mengalami penurunan. Selain itu, sperma juga mengalami perubahan kode genetik.

Meskipun efek wi-fi tampak nyata dalam percobaan tersebut, peneliti menegaskan,  pengaruh yang sama belum tentu akan terjadi dalam kehidupan nyata. Oleh sebab itu, penemuan ini perlu ditindaklanjuti dengan penelitian berikutnya untuk memastikan dampak penggunaan wi-fi laptop terhadap sperma.

Bukan efek suhu panas

Para ahli dari Argentina dan Amerika Serikat melakukan penelitian dengan cara menguji 29 sampel sperma dari pria sehat. Setiap sampel dibagi ke dalam dua wadah, dan salah satunya disimpan selama 4 jam di dekat laptop yang terhubung dengan wireless internet.  Sampel pada satu wadah lainnya disimpan dalam durasi yang sama di tempat yang tidak terdapat laptop.

Para peneliti menduga, efek buruk yang timbul terhadap sperma dalam uji coba ini tidak berkaitan dengan suhu panas yang diakibatkan oleh laptop. Meskipun suhu panas memang sejak lama dikenal dapat mengganggu kualitas sperma.

Health Protection Agency (HPA) Inggris berpendapat, mereka yang menggunakan koneksi wi-fi atau berada dekat dengan perangkat wi-fi memang dapat terpapar sinyal radio. Sebagian dari energi yang dipancarkan dari sinyal tersebut akan diserap oleh tubuh. Tetapi paparan sinyal dari wi-fi sejauh ini diyakini aman karena kekuatannya sangat rendah.

Hingga kini, kata HPA, belum ditemukan bukti ilmiah yang menyatakan bahwa paparan sinyal radio dari wi-fi dapat mengganggu kesehatan pada populasi secara umum.

Pakar andrologi dan fertilitas dari Universitas Sheffield, Dr Allan Pacey, menyatakan, penelitian ini perlu dikembangkan lebih lanjut untuk memastikan efek paparan sinyal wi-fi.  

"Penelitian ini telah dilakukan dengan baik, tetapi kita perlu mewaspadai apa yang dapat memengaruhi kesuburan pria yang secara teratur memangku laptop wi-fi," ujarnya.

Sperma yang telah diejakulasi, lanjut Pacey,  memang sensitif terhadap banyak faktor. Pasalnya, ketika sudah berada di luar tubuh, sperma tidak lagi memiliki perlindungan dari sel-sel, jaringan, dan cairan tubuh lainnya yang tersimpan sebelum ejakulasi.

"Oleh sebab itu, kami tidak dapat menyimpulkan dari penelitian ini bahwa  pria yang menggunakan laptop wi-fi pada pangkuanya selama kurang lebih empat jam dapat mengalami kerusakan sperma atau menjadi kurang subur.  Kita butuh studi  epidemiologis yang lebih besar untuk memastikannya dan sejauh ini memang belum pernah dilakukan," papar Pacey.  
  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau