Tanpa Kemandirian, Kota Baru Cuma Membebankan

Kompas.com - 30/11/2011, 19:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Perkotaan dan Pedesaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Hayu Parasti mengatakan, keberadaan kota-kota baru jangan sampai menjadi beban bagi kota induknya. Konsep kota baru harus memiliki kemandirian, tak hanya berorientasi kepada pengembangan perumahan dan permukiman semata.

"Pengembangan kota baru itu harus berorientasi kepada masyarakatnya, tidak sebatas membangun perumahan dan permukiman saja," kata Hayu dalam rangkaian acara Rakernas Real Estat Indonesia (REI) 2011 di Jakarta, Rabu (30/11/2011).

Hayu mengatakan, kemandirian pengembangan kota baru artinya memiliki unsur-unsur lengkap, seperti sarana prasarana, basis perekonomian, fasilitas khusus dan fasilitas umum, kesiapan pemerintah, serta kesiapan masyarakatnya.

"Kalau tidak mandiri, maka hanya akan menjadi beban kota induknya," jelasnya.

Pada kesempatan sama, Hazadin S Sitepu, Deputi Pengembangan Kawasan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera), menyampaikan, bahwa dari 24 rencana pengembangan kota baru di Indonesia, baru satu yang tengah dikembangkan, yakni Kota Baru Maja di Lebak, Banten.

"Kota Baru Maja sedang direncanakan, semoga segera menemukan tema kotanya untuk pengembangannya. Satu lagi kota baru di Gresik Selatan, dalam tahap master plan," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau