Industri

Rotan Didorong untuk Pasar Domestik

Kompas.com - 01/12/2011, 02:41 WIB

Jakarta, Kompas - Kejayaan mebel dan kerajinan rotan harus direbut kembali. Kampanyekan dan tekankan kembali pemanfaatan rotan bagi pasar domestik, mulai dari kafe, hotel, bandar udara, stasiun kereta api, sekolah, hingga kantor pemerintahan, untuk melawan tren rotan sintetis.

”Pelarangan ekspor rotan membutuhkan strategi komprehensif. Industri rotan, seperti di Cirebon, yang selama ini sekadar mengikuti tren rotan sintetis atau substitusi rotan dari bijih plastik harus didorong pemerintah untuk memiliki komitmen menggunakan kembali rotan sebagai bahan bakunya. Jangan sekadar mengikuti tren,” kata Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia Ambar Polah Tjahyono di Jakarta, Rabu (30/11).

Ambar mengatakan, selama ini Indonesia hanya pengikut tren pasar. Padahal, potensi bahan baku yang berlimpah sesungguhnya bisa menjadikan Indonesia pemimpin pasar.

Menurut Ambar, setelah bertemu dengan Menteri Perdagangan beberapa waktu lalu, kejayaan mebel dan kerajinan rotan Indonesia hanya dapat dicapai dengan melibatkan desainer terkenal. Kemampuan desainer kelas dunia akan menggiring pada penciptaan tren baru di pasar dunia.

Menteri Perindustrian Mohammad S Hidayat mengemukakan, komitmen penggunaan mebel rotan telah ditunjukkan dalam penataan ruang kerjanya. Sebanyak 14 kursi kini melengkapi ruang tamunya.

Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian Dedi Mulyadi mengatakan, ”Prinsipnya, pemanfaatan rotan harus didorong untuk mencapai nilai tambah. Rotan tertentu memang tidak bisa digunakan untuk rangka mebel, tetapi bisa digunakan untuk anyaman.”

Sementara itu, Sulawesi Selatan menawarkan diri membangun industri rotan untuk mengantisipasi pelarangan ekspor bahan baku. Kendati demikian, pemerintah daerah menagih komitmen pusat untuk merealisasikan industri rotan.

”Silakan ditutup, tapi kompensasinya buat penghasil bahan bakunya seperti apa. Bangunlah industri, infrastruktur kami siap,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Selatan Irman Yasin Limpo di Makassar. (OSA/SIN/BAY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau