Jakarta, Kompas
”Pelarangan ekspor rotan membutuhkan strategi komprehensif. Industri rotan, seperti di Cirebon, yang selama ini sekadar mengikuti tren rotan sintetis atau substitusi rotan dari bijih plastik harus didorong pemerintah untuk memiliki komitmen menggunakan kembali rotan sebagai bahan bakunya. Jangan sekadar mengikuti tren,” kata Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia Ambar Polah Tjahyono di Jakarta, Rabu (30/11).
Ambar mengatakan, selama ini Indonesia hanya pengikut tren pasar. Padahal, potensi bahan baku yang berlimpah sesungguhnya bisa menjadikan Indonesia pemimpin pasar.
Menurut Ambar, setelah bertemu dengan Menteri Perdagangan beberapa waktu lalu, kejayaan mebel dan kerajinan rotan Indonesia hanya dapat dicapai dengan melibatkan desainer terkenal. Kemampuan desainer kelas dunia akan menggiring pada penciptaan tren baru di pasar dunia.
Menteri Perindustrian Mohammad S Hidayat mengemukakan, komitmen penggunaan mebel rotan telah ditunjukkan dalam penataan ruang kerjanya. Sebanyak 14 kursi kini melengkapi ruang tamunya.
Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian Dedi Mulyadi mengatakan, ”Prinsipnya, pemanfaatan rotan harus didorong untuk mencapai nilai tambah. Rotan tertentu memang tidak bisa digunakan untuk rangka mebel, tetapi bisa digunakan untuk anyaman.”
Sementara itu, Sulawesi Selatan menawarkan diri membangun industri rotan untuk mengantisipasi pelarangan ekspor bahan baku. Kendati demikian, pemerintah daerah menagih komitmen pusat untuk merealisasikan industri rotan.
”Silakan ditutup, tapi kompensasinya buat penghasil bahan bakunya seperti apa. Bangunlah industri, infrastruktur kami siap,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Selatan Irman Yasin Limpo di Makassar.