Kekerasan di papua

Bripda Ridwan Ternyata Tidak Tewas

Kompas.com - 01/12/2011, 15:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Bripda Ridwan Napitupulu, seorang bintara dari Satuan Intelkrim Polres Jayapura, sempat dikabarkan tewas diserang kelompok berpanah. Namun, hal ini kemudian diklarifikasi kembali oleh Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution.

Bripda Ridwan nyaris tewas akibat mengalami luka parah dan mengalami kerusakan di bagian wajahnya akibat dianiaya sekelompok orang tersebut. "Bripda Ridwan Napitupulu luka berat, wajahnya rusak, dan pinggang luka kena panah. Saat ini masih dirawat di RS Youwari, Sentani, Jayapura," ujar Saud melalui pesan singkat kepada wartawan, Kamis (1/12/2011).

Peristiwa ini terjadi ketika pada Kamis pukul 01.00 WIT dini hari, Bripda Ridwan dan rekannya, Kanit Intelkrim Polsek Nimbrokang Bripka Dian Budi Santosa, dalam perjalanan menuju Kampung Berang, Distrik Nimbrokang, Papua.

Mereka mendatangi desa itu karena mendapatkan laporan adanya keresahan masyarakat di desa tersebut. Saat itu mereka dihadang kelompok bersenjata yang menggunakan senjata panah dan senjata panjang. "Pada saat dua anggota ini berangkat ke sana, mereka dicegah oleh orang yang bersenjata. Kemudian kedua anggota ini meloncat ke sungai, Kali Niru, untuk menyelamatkan diri," ujar Saud.

Sayangnya, Bripda Ridwan berhasil ditangkap oleh kelompok itu dan dianiaya. Sementara itu, Bripka Dian Budi dapat meloloskan diri. Dalam keadaan kritis, Bripda Ridwan ditemukan oleh anggota seorang Koramil yang kemudian dilaporkan kepada Polres Jayapura.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau