Rumah Sakit Harus Transparan soal Demam Berdarah

Kompas.com - 01/12/2011, 15:34 WIB

PONTIANAK, KOMPAS.com- Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Kalimantan Barat, berulangkali menegur pengelola rumah sakit yang menakut-nakuti keluarga pasien yang diduga mengalami demam berdarah. Rumah sakit diminta memberi penjelasan rinci jika setelah dirawat inap, pasien ternyata tidak menderita demam berdarah.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Multi Juhto Bhatarendro, Kamis (1/12/2011), mengatakan, sekarang banyak rumah sakit yang langsung memvonis pasien menderita demam berdarah.

"Pasien yang datang dengan panas tinggi dan hasil uji laboratorium trombosit turun langsung disuruh rawat inap. Itu bagus untuk jaga-jaga. Namun, kalau ternyata tidak demam berdarah, rumah sakit harus berani mengatakan kepada pasien dan mempersilahkan pulang. Gejala seperti itu bisa saja typus dan itu tidak perlu rawat inap, hanya perlu antibiotik saja," kata Multi.

Multi mengatakan, ada banyak masyarakat yang mengeluh biaya rawat inap sangat mahal karena pasien harus dirawat beberapa hari. "Kalau seperti itu kan kasihan masyarakat. Kalau ternyata bukan demam berdarah, kasihan juga staf kami di puskesmas juga yang harus pontang-panting periksa jentik, lapor sana-sini, dan setelah dicek ternyata bukan demam berdarah," kata Multi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau