Unnes Tambah Guru Besar Bidang MIPA

Kompas.com - 01/12/2011, 21:50 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Universitas Negeri Semarang menambah guru besar di bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA) dengan dilantiknya satu guru besar bidang itu, yakni Prof St. Budi Waluya.

"Prof St. Budi Waluya adalah guru besar ke-77 Unnes dan ke 15 di Fakultas MIPA," kata Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Sudijono Sastroatmodjo, usai memimpin upacara pengukuhan guru besar, di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (1/12/2011).

Menurut dia, matematika memang kerap dianggap pelajaran yang sulit dipelajari, padahal sesungguhnya kontribusi teori matematika bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat besar.

Ia mengakui, mekanisme penetapan gelar guru besar saat ini memang cukup panjang, sebab calon harus melewati validasi tim fakultas dan universitas, kemudian komisi guru besar dan dilakukan rapat pleno.

Setelah itu, kata dia, usulan dikirim ke Dirjen Pendidikan Tinggi untuk dievaluasi dan seluruh proses panjang tersebut sebenarnya merupakan bentuk perhatian pemerintah untuk menghasilkan guru besar berkualitas.

Ia mengakui, pengetatan mekanisme penetapan guru besar tersebut merupakan langkah hati-hati pemerintah untuk menentukan siapa yang benar-benar memenuhi kriteria sebagai guru besar di perguruan tinggi.

"Jalan panjang ini adalah bentuk perhatian pemerintah. Bukan bermaksud menyulitkan, namun dimaksudkan lebih selektif untuk menghindari kasus plagiat, dan Prof St. Budi Waluya berhasil melaluinya," kata Sudijono.

Sementara itu, Budi Waluya yang menyampaikan pidato pengukuhan berjudul "Kontribusi Matematika dalam Pengembangan Ilmu dan Teknologi" menyampaikan prinsip persamaan differensial sangat dekat dengan kehidupan.

Pria kelahiran Magelang, 7 September 1968 itu mencontohkan, kejadian ambruknya jembatan yang diakibatkan adanya gaya luar yang sama dengan gaya dari vibrasi kabel jembatan. Ketika kedua gaya bergabung, maka jembatan runtuh.

Namun, ia enggan mengaitkan prinsip differensial itu dengan peristiwa runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur beberapa waktu lalu, sebab membutuhkan penelitian mendalam mengenai penyebab peristiwa itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau