SEMARANG, KOMPAS.com - Universitas Negeri Semarang menambah guru besar di bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA) dengan dilantiknya satu guru besar bidang itu, yakni Prof St. Budi Waluya.
"Prof St. Budi Waluya adalah guru besar ke-77 Unnes dan ke 15 di Fakultas MIPA," kata Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Sudijono Sastroatmodjo, usai memimpin upacara pengukuhan guru besar, di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (1/12/2011).
Menurut dia, matematika memang kerap dianggap pelajaran yang sulit dipelajari, padahal sesungguhnya kontribusi teori matematika bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat besar.
Ia mengakui, mekanisme penetapan gelar guru besar saat ini memang cukup panjang, sebab calon harus melewati validasi tim fakultas dan universitas, kemudian komisi guru besar dan dilakukan rapat pleno.
Setelah itu, kata dia, usulan dikirim ke Dirjen Pendidikan Tinggi untuk dievaluasi dan seluruh proses panjang tersebut sebenarnya merupakan bentuk perhatian pemerintah untuk menghasilkan guru besar berkualitas.
Ia mengakui, pengetatan mekanisme penetapan guru besar tersebut merupakan langkah hati-hati pemerintah untuk menentukan siapa yang benar-benar memenuhi kriteria sebagai guru besar di perguruan tinggi.
"Jalan panjang ini adalah bentuk perhatian pemerintah. Bukan bermaksud menyulitkan, namun dimaksudkan lebih selektif untuk menghindari kasus plagiat, dan Prof St. Budi Waluya berhasil melaluinya," kata Sudijono.
Sementara itu, Budi Waluya yang menyampaikan pidato pengukuhan berjudul "Kontribusi Matematika dalam Pengembangan Ilmu dan Teknologi" menyampaikan prinsip persamaan differensial sangat dekat dengan kehidupan.
Pria kelahiran Magelang, 7 September 1968 itu mencontohkan, kejadian ambruknya jembatan yang diakibatkan adanya gaya luar yang sama dengan gaya dari vibrasi kabel jembatan. Ketika kedua gaya bergabung, maka jembatan runtuh.
Namun, ia enggan mengaitkan prinsip differensial itu dengan peristiwa runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur beberapa waktu lalu, sebab membutuhkan penelitian mendalam mengenai penyebab peristiwa itu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang