Sarana produksi pertanian

Petani Sulit Peroleh Pupuk Bersubsidi

Kompas.com - 02/12/2011, 03:24 WIB

SURABAYA, KOMPAS - Sebagian petani di beberapa daerah di Jawa Timur saat ini mengalami kesulitan memperoleh pupuk urea bersubsidi. Padahal saat ini tanaman seperti padi dan jagung sangat membutuhkan pupuk. Diduga pupuk bersubsidi ini dijual bebas.

Menurut kalangan petani yang dihubungi, Kamis (1/12), karena kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi di kios resmi desa, mereka membeli di pasar bebas yang harganya lebih tinggi. Misalnya harga urea seharga di kios resmi desa Rp 170.000 per kuintal, menjadi Rp 200.000 per kuintal. Ada juga yang terpaksa menggunakan pupuk cair dari limbah tetes yang kualitasnya di bawah pupuk bersubsidi.

Ketua Kelompok Tani Desa Andan-andan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Mat Kunani, mengatakan, selama musim tanam padi ini hampir tidak memperoleh pupuk dari kios resmi di desanya dengan alasan habis atau tidak ada barang. ”Saya lihat hal demikian juga terjadi di desa lain. Akhirnya, kebanyakan petani menggunakan pupuk tetes cair daripada tidak diberi pupuk sama sekali,” katanya.

Mat Kunani menduga terjadi penyelewengan distribusi pupuk bersubsidi, yaitu dijual di pasar bebas karena harganya lebih tinggi. Bahkan penyelewengan itu sudah lintas kabupaten.

Muslim, petani asal Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, mengatakan, sulit memperoleh pupuk bersubsidi. Akibatnya, tanaman jagungnya yang baru berumur dua minggu tidak dipupuk.

Sederhana

Untuk mencegah petani kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi, kata Sali, warga Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, hendaknya penyaluran pupuk bersubsidi dilaksanakan secara sederhana, tanpa harus memperoleh rekomendasi dari ketua kelompok tani. Alasannya, belum semua petani sudah tercatat sebagai anggota kelompok tani, akibatnya pupuk yang diharapkan sesuai kebutuhan menjadi tak terpenuhi.

Sementara itu di Kabupaten Madiun, walau permintaan pupuk di tingkat petani meningkat tajam, petani tidak sampai mengalami kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi. Malahan penyerapan pupuk bersubsidi untuk urea baru 15.486 ton dari alokasi selama satu tahun 31.345 ton.

Karyawan Koperasi Unit Desa Sri Mulyo, Distributor Petrokimia Gresik di Kecamatan Wonoasri, Mulyono, mengatakan, permintaan pupuk selama bulan November meningkat 200 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan permintaan itu mengakibatkan ia harus bolak-balik mengambil barang di gudang pupuk.

Di Magelang, Jawa Tengah, hama wereng dan keong mas kembali menyerang sebagian sawah petani. Sementara petani di wilayah Kabupaten Tegal, mengeluhkan turunnya harga jagung pada musim panen kali ini. Kondisi itu diperparah oleh penurunan produktivitas jagung akibat serangan tikus dan belalang.(WIE/EGI/SIR/NIK/TIF/ACI/ANO)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau