SURABAYA, KOMPAS -
Menurut kalangan petani yang dihubungi, Kamis (1/12), karena kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi di kios resmi desa, mereka membeli di pasar bebas yang harganya lebih tinggi. Misalnya harga urea seharga di kios resmi desa Rp 170.000 per kuintal, menjadi Rp 200.000 per kuintal. Ada juga yang terpaksa menggunakan pupuk cair dari limbah tetes yang kualitasnya di bawah pupuk bersubsidi.
Ketua Kelompok Tani Desa Andan-andan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Mat Kunani, mengatakan, selama musim tanam padi ini hampir tidak memperoleh pupuk dari kios resmi di desanya dengan alasan habis atau tidak ada barang. ”Saya lihat hal demikian juga terjadi di desa lain. Akhirnya, kebanyakan petani menggunakan pupuk tetes cair daripada tidak diberi pupuk sama sekali,” katanya.
Mat Kunani menduga terjadi penyelewengan distribusi pupuk bersubsidi, yaitu dijual di pasar bebas karena harganya lebih tinggi. Bahkan penyelewengan itu sudah lintas kabupaten.
Muslim, petani asal Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, mengatakan, sulit memperoleh pupuk bersubsidi. Akibatnya, tanaman jagungnya yang baru berumur dua minggu tidak dipupuk.
Untuk mencegah petani kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi, kata Sali, warga Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, hendaknya penyaluran pupuk bersubsidi dilaksanakan secara sederhana, tanpa harus memperoleh rekomendasi dari ketua kelompok tani. Alasannya, belum semua petani sudah tercatat sebagai anggota kelompok tani, akibatnya pupuk yang diharapkan sesuai kebutuhan menjadi tak terpenuhi.
Sementara itu di Kabupaten Madiun, walau permintaan pupuk di tingkat petani meningkat tajam, petani tidak sampai mengalami kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi. Malahan penyerapan pupuk bersubsidi untuk urea baru 15.486 ton dari alokasi selama satu tahun 31.345 ton.
Karyawan Koperasi Unit Desa Sri Mulyo, Distributor Petrokimia Gresik di Kecamatan Wonoasri, Mulyono, mengatakan, permintaan pupuk selama bulan November meningkat 200 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan permintaan itu mengakibatkan ia harus bolak-balik mengambil barang di gudang pupuk.
Di Magelang, Jawa Tengah, hama wereng dan keong mas kembali menyerang sebagian sawah petani. Sementara petani di wilayah Kabupaten Tegal, mengeluhkan turunnya harga jagung pada musim panen kali ini. Kondisi itu diperparah oleh penurunan produktivitas jagung akibat serangan tikus dan belalang.(WIE/EGI/SIR/NIK/TIF/ACI/ANO)