Dunia maya

Saling Ejek di Facebook, Berlanjut "Perang" di Jalan

Kompas.com - 02/12/2011, 11:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Awalnya saling ejek di grup Persatuan Tawuran Pelajar Indonesia di jejaring sosial Facebook. Provokasi rupanya terbawa hingga ke dunia nyata hingga nyawa Rifal ES (16) melayang, Kamis pekan lalu.

Ketika itu, Rifal bersama sejumlah teman satu sekolah sedang naik bus. Bus itu dihadang rombongan pemuda pelajar dan alumni, termasuk A (20) dan HY (19), yang tergabung dalam kelompok Kebon Jeruk (Bonjer) 5. Pelajar SMK Negeri 1 Jakarta yang berada di dalam bus langsung diserang dengan beragam jenis senjata. Tidak main-main, para penyerang rupanya sudah siap dengan celurit, kelewang, pedang samurai, batu, balok, dan gir. Sementara mereka yang berada di dalam bus tidak bersenjata apa-apa.

Pengeroyokan ini pun tidak imbang. Korban berjatuhan, terutama dari pihak pelajar yang menumpang bus. Rifal yang duduk di kelas 11 Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 1 Jakarta menderita luka paling parah, hingga nyawanya tidak terselamatkan ketika hendak dibawa ke rumah sakit. Sementara dua kawannya mengalami luka-luka.

A dan HY dijadikan tersangka karena mereka diduga menjadi pembacok Rifal dan penggerak pengeroyokan. ”Di grup Facebook, ada saling ejek antaranggota. Saya panas dan ikut turun,” ujar A, yang lulus SMA tahun 2011.

Sementara HY mengaku tidak mengenal korban. Dia mengatakan, jarang ikut tawuran saat duduk di bangku SMK dan juga tidak ikut dalam grup di Facebook. ”Saya hanya diajak kawan. Senjata tajam untuk menusuk korban juga saya dapat dari pelajar,” ucap HY yang hingga kini belum bekerja.

Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat Komisaris Hengki Haryadi mengatakan, kedua tersangka sempat kabur ke daerah Parung Panjang, tempat keluarga A, selama empat hari terakhir. Dari penangkapan kedua tersangka, polisi mendalami kasus untuk mengungkap orang-orang lain yang kemungkinan terlibat dalam kasus ini.

Solidaritas semu inilah yang membuat pertengkaran di jalanan muncul. Kekerasan massal di jalan sering dipicu alasan yang tidak jelas, termasuk permusuhan di dunia maya. Padahal, identitas orang di jaringan internet bisa saja dipalsukan. Bahkan, bisa saja penyebar amarah dalam dunia maya sesungguhnya justru bersembunyi saat tawuran pecah. Alasan saling ejek di Facebook juga memicu tawuran di sejumlah lokasi di Kecamatan Johar Baru.

Kejadian yang menimpa Rifal itu memanaskan situasi di dalam sekolah Rifal. ”Saya sempat membubarkan siswa yang nongkrong di Lapangan Banteng setelah kejadian yang menimpa Rifal. Kalau dibiarkan, kami khawatir akan terjadi hal negatif,” kata Dartono, Wakil Ketua Bidang Kesiswaan SMK Negeri 1 Jakarta, saat ditemui di Polrestro Jakarta Pusat.

Upaya meredam situasi juga dilakukan pihak sekolah dengan menggandeng orangtua Rifal untuk berbicara di depan siswa. Orangtua Rifal sudah menyerahkan kasus ini kepada polisi.

Dartono mengatakan, pihak sekolah juga menerapkan pengawasan ketat agar siswa meredam tawuran. Salah satunya adalah dengan mengurangi nilai bagi siswa yang terlibat tawuran atau kedapatan membawa senjata tajam.

Selain itu, aneka kegiatan ekstrakurikuler juga digiatkan untuk menyibukkan siswa di dalam sekolah. Upaya ini berhasil menekan tawuran selama 3-4 tahun terakhir. Dari catatan Dartono, Rifal bukanlah anak yang pernah terlibat tawuran. (BRO/ART)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau