Kasus Don Bosco Bukti Pengetahuan Soal HIV Masih Rendah

Kompas.com - 03/12/2011, 11:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) terbukti masih sangat kuat tertanam di masyarakat.  Kasus yang menimpa Im, buah hati dari pasangan Fajar Jasmin Sugandhi dan Leonnie F Merinsca yang ditolak masuk ke SD Don Bosco merupakan efek dari masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS.

Menurut Prof Dr Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM dari Pusat Pelayanan Terpadu HIV/AIDS RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, stigma dan diskriminasi terhadap ODHA sebenarnya tidak perlu terjadi apabila masyarakat mendapatkan edukasi dan informasi yang lengkap dengan benar.

"Menurut saya ini, karena ketidaktahuan. Rupanya kita balik lagi ke awal, karena ternyata tidak semua orang tua teredukasi dengan benar," ujar Prof Dr Zubairi, saat dimintai komentar perihal kasus yang menimpa Im, Jumat, (2/12/2011).

Zubairi menjelaskan bahwa masyarakat seharusnya memahami bahwa penularan HIV tidaklah semudah yang dibayangkan. Jalur penularannya pun hanya melalui 4 (empat) cara yakni melalui penularan seksual, jarum suntik narkotika (dipakai bersamaan), melalui ibu melahirkan yang terinfeksi HIV, dan transfusi darah yang tidak diuji saring.

"Di luar itu tidak. Apakah dari piring, sendok, makanan, baju, gigitan nyamuk dan keringat. Ini berarti menunjukkan, apa yang sudah kita omongin dan jelaskan tentang HIV belum cukup," jelasnya.

Fajar Jasmin yang merupakan ayah dari Im mengakui secara terbuka bahwa dirinya terinfeksi HIV positif.  Tetapi Im sejauh ini tidak diketahui terinfeksi HIV seperti ayahnya. Namun hanya dengan alasan anak seorang pengidap HIV, Im ditolak masuk ke sekolah yang berlokasi di kawasan Kelapa Gading tersebut.

Perlu dukungan

Sementara itu dr. Ekarini Aryasatiani, SpOG, Ketua Pokja HIV/AIDS, RSUD Tarakan Jakarta Pusat, mengaku sangat menyayangkan masih adanya perlakuan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS.

Menanggapi kasus yang menimpa Im, Eka berpendapat, baik sekolah maupun orang-orang di sekitarnya seharusnya tidak memperlakukan Im berbeda dengan anak yang lain.  Apalagi orang tua Im mengaku bahwa anaknya tidak mengidap HIV.

"Stigma itu kan nggak benar. Harusnya jauhi penyakitnya, bukan jauhi orangnya. Sementara kalau misalnya dia memang positif, dia justru harus dikasih support untuk terus minum obat," cetusnya.

Eka menegaskan, dirinya sangat tidak setuju dengan keputusan SD Don Bosco yang menolak Im untuk bersekolah di sana. Apalagi diketahui Im tidak terinfeksi HIV. Ketakutan pihak sekolah dan orang tua murid menurutnya sangat tidak beralasan dan dianggap sebagai tindakan yang bodoh.

"Sebenarnya anak ini tidak bermasalah, jadi kenapa harus dijauhi. Itu menggambarkan betapa bodohnya orang-orang di sekolah tersebut dan pengetahuan tentang HIVnya sangat rendah," tegasnya.

Kasus stigma yang menimpa Im lanjut Eka bukanlah yang pertama dan satu-satunya. Masih banyak perlakuan tidak adil dan tidak manusiawi pada orang dengan HIV dalam kehidupan bermasyarakat.

Eka menegaskan, yang dibutuhkan ODHA saat ini adalah sebuah komitmen jangka panjang berupa dukungan baik dari keluarga dan lingkungan sekitarnya.

"Pemerintah dan masyarakat belum siap untuk berkomitmen seperti itu. Masyarakat harus bisa menerima orang dengan HIV di dalam keluarganya dengan komitmen jangka panjang, karena orang seperti ini harus di support seumur hidup," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau