Fujitsu Percayakan Orang Lokal di Jajaran Manajemen

Kompas.com - 03/12/2011, 17:28 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Fujitsu melakukan perubahan di jajaran petingginya di masing-masing negara. Semula jajaran petinggi selalu diisi oleh orang Jepang, namun kini sudah dirombak dan diisi oleh orang lokal di masing-masing negara.

Fujitsu sudah 16 tahun berada di Indonesia dan bernama PT Fujitsu System Indonesia. Berkantor pusat di Jakarta, Fujitsu Indonesia memiliki empat kantor cabang yaitu Surabaya, Medan, Makassar dan Denpasar.

Namun sejak 2007 lalu, Fujitsu Limited yang merupakan Fujitsu pusat di Jepang melakukan perubahan dengan menaruh orang-orang lokal untuk menjadi petingginya di masing-masing wilayah.

Presiden Direktur Fujitsu System Indonesia, Achmad S Sofwan menjelaskan dirinya merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi petinggi di perusahaan asal Jepang tersebut sejak 2005. Sebelumnya, orang nomor satu di perusahaan platform product, application service, infrastruktur integration services, managed services dan network services ini selalu diisi oleh orang Jepang.

"Sebelumnya, orang Jepang hanya percaya dengan sesama orang Jepang. Makanya regenerasi mereka juga diisi oleh orang Jepang," ungkap Achmad kepada Kompas.com di Yogyakarta, Jumat (2/12/2011).

Achmad menjadi petinggi di Fujitsu Indonesia sejak 2005. Pada Januari 2012 nanti, lelaki asli Solo tersebut tepat 7 tahun memimpin Fujitsu Indonesia. Sebelumnya, Achmad juga pernah di IBM dan Hewlett Packard.

Alasan perombakan jajaran petinggi Fujitsu wilayah diserahkan ke orang lokal, kata Achmad, lebih disebabkan karena orang lokal lebih mengerti karakteristik bisnis di negaranya. Sehingga diharapkan pendapatan perusahaan akan melonjak karena bisa menggarap peluang-peluang yang sudah dikenali pasarnya.

Kendati demikian, Achmad belum merasa ada perubahan signifikan di perusahaan yang dipimpinnya tersebut. Tapi dari data yang ada, pertumbuhan pendapatan rata-rata (compound annual growth rate/CAGR) Fujitsu Indonesia sejak 2006-2010 mencapai 18,9 persen. Padahal angka CAGR industri menurut data dari IDC hanya tumbuh rata-rata 11,3 persen.

"Segmen bisnis skala menengah menjadi area fokus Fujitsu Indonesia. Kami juga akan terus menggalakkan pemakaian komputasi awan (cloud) di tahun depan. Semoga akan meningkatkan pendapatan perusahaan," tambahnya.

Hingga akhir tahun ini, Fujitsu Indonesia menargetkan pertumbuhan pendapatan naik 21,2 persen. Semua jenis bisnisnya akan digenjot untuk menaikkan pendapatannya tersebut. Hingga Oktober 2011 lalu, kenaikan pendapatannya sudah tumbuh 18 persen (year on year).

Selama 2010 lalu, bisnis jasa jaringan (network services) tumbuh 203 persen, layanan aplikasi (application services) naik 209 persen dan layanan terkelola (managed services) naik 112 persen.

"Tampaknya industri platform product yang berupa scanner, storage hingga notebook/PC akan mengontribusikan pendapatan terbesar. Tapi kontribusi yang lain juga akan digenjot," jelasnya.

Meski bisnis Fujitsu Indonesia sudah berada di atas level industri sejenis, kontribusi Fujitsu Indonesia ke Fujitsu global masih belum signifikan. Hal itu disebabkan jumlah pengeluaran belanja IT di Indonesia belum sebesar di negara lain.

"IT spending di Indonesia kurang dari 5 persen. Kontribusi pendapatan ke Fujitsu global juga masih 5 persen. Tapi kami akan selalu menjaga pertumbuhan pendapatan selalu di atas angka industri sejenis," pungkasnya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau