Jangan Lagi Disebut "Penyandang Cacat"

Kompas.com - 03/12/2011, 19:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebutan "penyandang cacat" kerap disematkan kepada mereka yang memiliki keterbatasan fungsi fisik. Sebutan ini dinilai tidak pantas lagi digunakan karena memiliki konotasi negatif.

"Harus ada perubahan istilah. kalau dulu penyandang cacat, sekarang penyandang disabilitas. Karena penyandang cacat punya konotasi negatif, seperti barang cacat yang tak ada gunanya lagi bagi masyarakat," ujar Ketua Umum Persatuan Penyandang Cacat Indonesia Ghufron Sakaril dalam peringatan "Hari Internasional Penyandang Cacat (Hipenca) 2011" yang diselenggarakan Kementerian Sosial di Jakarta, Sabtu (3/12/2011). Acara tersebut dihadiri sekitar 700 penyandang disabilitas.

Dengan perubahan sebutan ini, Ghufron berharap, terjadi pula perubahan pendekatan terhadap para difabel, dari pendekatan belas kasihan, menjadi pendekatan hak sosial. Selama ini stigma terhadap penyandang disabilitas adalah orang yang tidak berdaya, tidak mampu, dan menyandang masalah karena kekurangannya sehingga sulit mendapatkan pekerjaan yang setara dengan orang yang tidak memiliki kekurangan.

"Kami ingin selalu dilibatkan dalam proses-proses pembangunan mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi," tambah Gufroni.

Para penyandang disabilitas juga acap mendapat perlakuan diskriminatif. Mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak. Padahal, hak untuk mendapatkan pekerjaan sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.

Undang-undang mengamanatkan kuota satu persen bagi penyandang disabilitas di perusahaan atau lembaga pemerintahan. Namun, hingga kini implementasinya masih jauh dari harapan.

Ghufron berharap, disahkannya konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas menjadi undang-undang pada 18 Oktober 2011 dapat membuka harapan baru pemenuhan hak-hak para difabel.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau