Warga Bantaran Code Enggan Direlokasi

Kompas.com - 04/12/2011, 23:17 WIB

BANTUL, KOMPAS.com — Sembilan kepala keluarga di bantaran Sungai Code di Dusun Pandeyan, Desa Bangunharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, enggan direlokasi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bantul Dwi Daryanto Minggu (4/12/2011) di Bantul, mengatakan, bantaran Sungai Code yang ditempati sembilan kepala keluarga (KK) rawan terkena luapan banjir lahar dingin Gunung Merapi.

"Memang benar kami telah menawarkan dua opsi agar mereka tidak tinggal di bantaran sungai. Namun, mereka menolak dan tetap memilih tinggal di sana (bantaran)," katanya, Minggu.

Menurut dia, dua opsi yang ditawarkan pemerintah adalah tinggal di rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Jalan Parangtritis atau bertransmigrasi ke sejumlah daerah di Kalimantan.

"Karena warga di bantaran masih tetap di tempat, kita membangun penahan banjir lahar dingin di kawasan itu. Kami juga mengimbau mereka agar selalu waspada terhadap ancaman banjir lahar dingin," katanya.

Seorang warga bantaran sungai, Pargiman, mengatakan, dia bersama keluarga lebih memilih tetap bertahan untuk tinggal di bantaran Sungai Code karena masih menggantungkan hidup pada pekerjaan sebagai penambang pasir.

Dalam satu hari, dia mengaku bisa mengeruk pasir hingga seukuran bak mobil pikap yang dijual dengan harga Rp 50.000. "Kalau pindah nanti saya tidak bisa bekerja lagi, padahal saya mesti membiayai keluarga," katanya.

Ia mengatakan, pasir itu memang tidak langsung laku terjual setiap harinya karena dia harus antre menunggu giliran dengan tujuh penambang setempat lainnya.

"Sekolah anak saya juga dekat. Kalau pindah ke rusunawa, kebutuhan biaya hidup juga akan membengkak karena kan ada tambahan ongkos transportasi," katanya, yang sudah sejak 1993 tinggal di kawasan itu.

Menurut pengakuan warga, dalam satu bulan terakhir ini, luapan banjir lahar dingin di Sungai Code sudah tiga kali merendam halaman rumah setempat, meski tidak sampai masuk ke rumah warga.

Ia mengatakan, banjir paling parah terjadi pada Selasa (29/11/2011) ketika luapan air sungai setinggi pinggang orang dewasa. "Luapan pada Sabtu (3/12/2011) lalu juga deras, tetapi airnya tidak sampai masuk rumah," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau