Unjuk rasa

Tak Bisa Masuk DPR, Kepala Desa Blokir Jalan

Kompas.com - 05/12/2011, 11:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekitar 300 orang yang tergabung dalam Persatuan Rakyat Desa, Senin (5/12/2011) pagi, berunjuk rasa di depan Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta Pusat. Sejak sekitar pukul 09.00 WIB mereka telah berkumpul di depan pintu gerbang Gedung MPR/DPR. Para pengunjuk rasa bermaksud menyampaikan aspirasinya kepada DPR, tetapi niat mereka terhalang pintu gerbang yang tetap tertutup.

Karena tak berhasil membuka pintu gerbang Gedung MPR/DPR, massa kemudian memblokir jalan di depan pintu gerbang Gedung MPR/DPR hingga menimbulkan kemacetan.

Awalnya unuk rasa berlangsung tertib, tetapi karena perwakilan massa aksi tak bisa masuk ke dalam Gedung MPR/DPR untuk menyampaikan aspirasinya, massa melampiaskan kekesalannya dengan memblokir Jalan Gatot Subroto di depan pintu gerbang Gedung DPR.

"Buka gerbang, maka kami buka jalan ini," teriak salah seorang peserta aksi.

Massa aksi yang terdiri dari kepala desa seluruh Indonesia tersebut menuntut agar DPR mengesahkan Undang-Undang Desa. Hingga pukul 11.30 WIB, pemblokiran tersebut masih dipantau oleh kepolisian. Aksi tersebut membuat mobil dan motor mengantre hingga satu kilometer.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau