JAKARTA, KOMPAS.com - Jika proses transisi dalam tugas pengawasan oleh Bank Indonesia ke dalam mekanisme kerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak dilakukan dengan tepat, maka keberadaan lembaga ini bisa terancam.
"Kondisi ini bisa terjadi karena perekonomian global saat ini tengah krisis, sehingga memerlukan perhatian yang lebih dari Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang bertanggung jawab menjaga kestabilan nilai tukar mata uang dan inflasi," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Muliaman D. Hadad.
Muliaman menyampaikan hal itu dalam pidatonya pada acara seminar Perbanas ’Pekerjaan Rumah bagi OJK’ di Jakarta, Rabu. "Karena itu masa transisi kerja OJK harus dilakukan dengan baik dan tepat agar tidak mengganggu pengawasan," ucap Muliaman.
"Tantangan OJK ke depan sangat berat, seperti membangun budaya dan membangun SDM-nya sendiri, karena itu memerlukan proses yang panjang. Syukur-syukur tidak ada krisis lagi menimpa, kalau ada krisis balik lagi ke tempat awal," ujarnya.
Muliaman juga menyatakan pekerjaan BI untuk melakukan transisi itu tidaklah mudah, cara mendekati persoalan dan membangun mekanisme juga tidak mudah. "Jadi masa transisi ini paling penting, karena dapat mengganggu kestabilan sektor keuangan yang lagi berjalan saat ini," katanya.
Menurut Muliaman, dari sisi pengawasan ini menjadi penting, termasuk bagaimana koordinasi yang harus dibangun khususnya dengan bank sentral. "Komunikasi dan koordinasi tidak bisa dianggap ringan, sehingga pengambil keputusan bisa tepat," tuturnya.
Ia menjelaskan hadirnya UU OJK akan mengambil alih fungsi pengawasan yang ada pada perbankan mikro dari Bank Indonesia (BI). "Akan ada sekitar 1.000 pegawai BI di bawah pengawasan yang akan migrasi ke lembaga OJK tersebut, dan perlu ada proses kultur pengawasan dengan prinsip yang hati-hati dalam menjalankannya," ujarnya.
OJK juga dapat dihantui oleh krisis global yang terjadi saat ini, ujarnya. Jika pengawasan perbankan nantinya ada di tangan BI, maka semua pengawai di pengawasan harus mendapatkan pelatihan yang lebih dan ada pelatihan ulang.
Muliaman menambahkan, agar OJK berjalan sesuai yang diinginkan, maka harus ada industri yang modern. Karena OJK akan berhubungan dengan pasar, sehingga perlu ada koordinasi BI dan OJK yang merupakan hal penting di dalamnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang