Konversi minyak tanah

Gorontalo Alami Kelangkaan Minyak Tanah

Kompas.com - 07/12/2011, 21:42 WIB

GORONTALO, KOMPAS.com - Gorontalo mengalami kelangkaan minyak tanah dalam sebulan terakhir, sebagai dampak program konversi minyak tanah ke gas elpiji.

Di tingkat pengecer, seliter minyak tanah dijual hingga Rp 10.000. Pemerintah diminta meninjau kembali program konversi minyak tanah ke gas elpiji di Gorontalo.

Di beberapa pengecer di Kota Gorontalo satu liter minyak tanah dijual antara Rp 8.000 hingga Rp 10.000. Padahal harga di tingkat agen hanya Rp 3.600 per liter.

Rata-rata setiap rumah tangga hanya mendapat jatah lima liter minyak tanah setiap pekannya dari agen. Bahkan, di beberapa kelurahan di Gorontalo, ada warga yang sudah tidak mendapat minyak tanah dua pekan lamanya dari agen.

Mayang Polii (32), salah satu warga di Kelurahan Wongkaditi Utara, Kota Gorontalo, mengeluhkan tingginya harga minyak tanah di pengecer yang mencapai Rp 8.500 per liter. Sementara itu pasokan minyak tanah di tingkat agen seharga Rp 3.600 per liter, mulai berkurang. Jika biasanya dalam seminggu sekali ada penjualan di tingkat agen, sekarang hanya sekali dalam dua minggu.  

"Jika di agen tidak tersedia, saya terpaksa membeli di pengecer yang harganya Rp 8.500 per liter. Bahkan ada yang menjual sampai Rp 10.000 per liter. Harga ini terlampau mahal bagi kami," kata Mayang.

Manajer Penjualan PT Pertamina Area Sulawesi Utara dan Gorontalo, Irwansyah, mengatakan, kelangkaan minyak tanah bersubsidi di Gorontalo disebabkan pengurangan pasokan oleh Pertamina.

Dalam waktu dekat jumlah pasokan minyak tanah bersubsidi di Gorontalo akan dikurangi hingga habis sama sekali, dan diganti minyak tanah nonsubsidi. Pengurangan ini terkait dengan program konversi minyak tanah ke gas elpiji.  

"Pasokan minyak tanah bersubsidi untuk wilayah Gorontalo sebanyak 100-105 kilo liter per hari. Jumlah ini akan terus dikurangi sampai tidak ada lagi minyak tanah bersubsidi," kata Irwansyah.

Anggota DPRD Provinsi Gorontalo dari Komisi III, Abdullah Karim, mengatakan, pemerintah pusat hendaknya meninjau kembali program konversi minyak tanah ke gas elpiji. Sebab, sebagian warga di Gorontalo masih enggan menggunakan gas elpiji di rumah tangga. Mereka takut menyaksikan berita di televisi tentang ledakan gas elpiji di rumah tangga.  

"Dari pengamatan kami, 150.000 tabung gas elpiji berukuran tiga kilogram yang dibagi-bagikan di Provinsi Gorontalo hanya sekitar 10 persen yang benar-benar digunakan warga. Sisanya belum dimanfaatkan, karena warga trauma dengan pemberitaan soal ledakan tabung gas sementara tingginya harga minyak tanah menyulitkan warga," kata Karim.

Karim juga mendesak agar pihak Pertamina gencar mensosialisasikan program konversi minyak tanah ke gas elpiji di Gorontalo. Sosialisasi itu meliputi cara aman menggunakan tabung gas elpiji di tingkat rumah tangga. Keengganan warga di Gorontalo menggunakan gas elpiji semata-mata khawatir terjadi ledakan.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau