Makanan Indonesia Lebih Pentingkan Selera

Kompas.com - 07/12/2011, 21:57 WIB

KOMPAS.com — Banyak makanan Indonesia yang menggunakan buah segar sebagai bahan bakunya. Mulai asinan buah, sambal mangga, manisan buah atau rujak, hingga sambal durian yang khas di Kalimantan Timur misalnya. Secara kuantitas, asupan buah masyarakat Indonesia bisa dibilang lebih bervariasi, tetapi belum tentu mendukung pola makan sehat.

Chef Vindex Tengker mengatakan, buah di makanan Indonesia lebih mengutamakan rasa atau selera. Buah dipilih sebagai penyeimbang atau memberikan rasa manis dan asam alami.

"Makanan dengan buah di Indonesia lebih mengarah ke taste belum kesehatan," kata chef Vindex di Jakarta, Rabu (7/12/2011).

Menurut Vindex, pengetahuan masyarakat Indonesia masih rendah tentang pentingnya makan buah untuk menjaga kesehatan. Karena itu, saat memilih makanan atau buah pada makanan, kebanyakan masih mengandalkan selera, bukan memikirkan faktor kesehatan, apalagi untuk memenuhi asupan buah setiap hari.

"Indonesia punya aneka sambal buah, dari sambal mangga hingga sambal durian, misalnya. Semua makanan dari buah ini lebih mempertimbangkan taste bukan untuk memenuhi kebutuhan buah setiap harinya," tandasnya.

Padahal, Indonesia belum memenuhi anjuran PBB untuk mengonsumsi buah 70 kilogram per kapita per orang. Di Indonesia, konsumsi buah masih rendah, 40-45 kilogram per kapita per orang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau