Laporan dari amerika

Ical: Koalisi Harus Sebelum Pemilu dan Permanen

Kompas.com - 09/12/2011, 05:56 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com — Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie menegaskan, koalisi partai politik dengan Golkar harus dilakukan sebelum pemilihan umum presiden, dan harus permanen.

Hal ini ditegaskan Aburizal Bakrie ketika berbicara di Forum USINDO (The United States-Indonesia Society) di Cosmos Club, Washington, Amerika Serikat, Rabu (7/12/2011) siang waktu setempat, atau Kamis (8/12/2011) dini hari WIB. Cosmos Club adalah klub eksekutif kaum elite Washington yang sudah berusia lebih dari 100 tahun.

Hadir sejumlah mantan Duta Besar AS untuk Indonesia, antara lain, John Cameron Monjo, Stapelton A Roy, dan Paul Wolfowitz). Juga Dubes RI untuk AS Dino Patti Djalal dan Anindya N Bakrie (putra Aburizal Bakrie).

Pidato Aburizal Bakrie di Cosmos Club mendapat sambutan meriah. Mereka yang hadir ingin mendengarkan pandangan pemimpin Partai Golkar itu.

Aburizal Bakrie optimistis Partai Golkar akan memperoleh 30-35 persen suara dalam pemilihan presiden 2014. Keyakinan ini karena melihat tidak banyak parpol yang memiliki kader hingga tingkat desa.

Di depan sekitar 100 undangan yang memenuhi Cosmos Club Washington, Aburizal menyampaikan pandangannya menyambut masa depan pasca-kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. ”Ini isu menarik, tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di Washington DC,” katanya.

Dengan bercanda, Aburizal Bakrie yang kerap dipanggil Ical mengatakan, meskipun ia pengusaha, ia datang ke Washington bukan untuk membantu Donald Trump mendukung kampanye Gingrich. ”Alasan saya datang ke sini untuk memastikan apakah Dubes Indonesia Dino Patti Djalal bekerja dengan benar, menjaga kepentingan Indonesia,” katanya.

Aburizal Bakrie mengemukakan, saat ini Indonesia merupakan negara demokrasi yang membanggakan, ketiga terbesar di dunia. ”Kami menunjukkan kepada dunia bahwa Islam juga kompatibel dengan demokrasi dan modernisasi. Partai-partai Islam memainkan peranan memperbarui komitmen pada keadilan sosial. Parpol-parpol ini memiliki kontribusi pada usaha menghentikan terorisme dan meminimalisasi dampak fanatisme agama,” paparnya.

Pertumbuhan ekonomi
Bakrie mengungkapkan pula sejumlah daerah di Indonesia berkembang pesat. Desentralisasi kekuasaan menghasilkan revolusi diam: gubernur, wali kota, dan anggota DPRD yang dipilih langsung, kini memainkan peranan penting mempertajam kebijakan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat seluruh Indonesia.

Kepemimpinan lokal yang berhasil di sejumlah daerah merupakan salah satu faktor kunci yang menjelaskan bagaimana angka pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah di luar Jawa lebih tinggi dibandingkan dengan daerah di Pulau Jawa.

”Dalam tahun-tahun mendatang, ini akan menghasilkan tranformasi besar di mana mesin pertumbuhan dan kemajuan tidak lagi di Jakarta, Surabaya, dan Bandung, tetapi juga di Balikpapan, Palembang, Makassar, dan Jayapura. Indonesia akan menjadi negara kuat,” ujar Aburizal, seperti dlaporkan wartawan Kompas Robert Adhi Ksp dari Washington.

Tren progresif di daerah juga merupakan alasan mengapa ketika kami melakukan transformasi politik, ekonomi nasional tumbuh secara kuat dan menakjubkan, di atas 6 persen per tahun, menyusul negara lain, seperti China, India, Cile, dan Brasil.

Dalam satu dekade, jika tren ini berlanjut, Indonesia akan memiliki jumlah kelas menengah lebih banyak, yang tersebar di berbagai lokasi. Ini akan membantu memperkuat pilar demokrasi.

Namun, Bakrie juga mengungkapkan, Indonesia menghadapi banyak persoalan, salah satunya adalah infrastruktur. Bukan hanya jalan, tetapi juga fasilitas publik lainnya, kurang dibangun. Akibatnya, tahun ini saja, lebih dari 25 miliar dollar AS dihabiskan untuk bahan bakar dan subsidi tak tepat sasaran.

”Jika Indonesia dapat memecahkan problem subsidi dan infrastruktur, berhasil menekan angka kemiskinan, juga menciptakan lingkungan bisnis yang sehat bagi jutaan usaha kecil, saya yakin Indonesia akan berlari lebih cepat, dengan pertumbuhan ekonomi 8-9 persen per tahun, bahkan lebih baik,” kata Ical.

Pencalonan
Soal kemungkinannya maju menjadi calon presiden, Aburizal menegaskan sekali lagi bahwa ia harus mendapatkan izin dari keluarganya, dari istri dan ibundanya, juga dari anak-anaknya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Theo Sambuaga menyatakan suara yang mendukung Aburizal Bakrie menjadi calon presiden sudah 100 persen.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau