NUSA DUA, KOMPAS.com - Sejumlah ahli dan petinggi di dunia perbankan baik dari dalam maupun luar negeri akan membahas krisis global dan dampaknya terhadap negara berkembang di, Nusa Dua, Bali, Jumat ( 9/12/2011 ).
"Secara internasional sudah dicatat sebagai suatu agenda,"ujar Direktur Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Bank Indonesia, Rizal A Djaafara, dalam acara briefing dengan wartawan, Kamis ( 8/12/2011 ).
Rizal menyebutkan, temanya memang disesuaikan dengan kondisi saat ini. Jadi, kata dia, pihak yang diundang pun seperti mulai dari lembaga keuangan internasional, perbankan baik pemerintah dan swasta hingga akademisi.
Para undangan seminar sehari ini akan berdiskusi dalam "The Intensifying Global Economic Turmoil: How Should Emerging Economies Respond?" Dari pihak lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) akan hadir Mahmood Pradhan, Penasihat Senior Departemen Asia Pasifik, yang hadir dari Washington DC. Kepala Ekonomi Citigroup Asia Pasifik, Johanna Chua, turut hadir dan akan memberikan pemaparan mengenai tantangan dan gambaran ekonomi global dari sudut pandang Citigroup.
Citigroup sendiri salah satu perusahaan finansial yang terbesar di dunia. Sekalipun besar, perusahaan ini sudah mulai mengalami imbas krisis Eropa dan Amerika Serikat, yakni pemotongan 4.500 pekerjaan akan dilakukan pada kuartal mendatang. Sudah tentu, keluh kesah krisis global dari perusahaan ini menarik untuk didengarkan.
Tidak luput pula Standard Chartered Bank dengan Nicholas Kwan akan hadir melengkapi pemaparan dari Citigroup.
Sementara itu, dari Indonesia, sejumlah pejabata yang aktif dan mantan akan juga hadir dalam seminar tahunan ini. Mereka adalah mantan Gubernur BI yakni AdrianusMooy dan J Soedradjad Djiwandono, dan Deputi Gubernur BI, Hartadi A Sarwono.
Hadir pula perwakilan dari Bank Sentral India hingga akademisi dari Korea Selatan. Mereka akan memberikan pemaparan pada sesi dua. "Sesi dua itu kita lebih banyak (mendengarkan) respon pengalaman dari masing-masing negara emerging market, kita undang dari India dan Korea (Selatan)," tambah Rizal.
Hasil dari pertemuan ini diharapkan bisa ditemukan langkah kebijakan moneter yang pas bagi negara-negara berkembang khususnya dalam mengantisipasi dampak krisis di Eropa dan AS yang tidak jua menemukan solusinya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang