Dua Mantan Gubernur BI Akan Bahas Krisis Global di Bali

Kompas.com - 09/12/2011, 07:38 WIB

NUSA DUA, KOMPAS.com - Sejumlah ahli dan petinggi di dunia perbankan baik dari dalam maupun luar negeri akan membahas krisis global dan dampaknya terhadap negara berkembang di, Nusa Dua, Bali, Jumat ( 9/12/2011 ).

"Secara internasional sudah dicatat sebagai suatu agenda,"ujar Direktur Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Bank Indonesia, Rizal A Djaafara, dalam acara briefing dengan wartawan, Kamis ( 8/12/2011 ).

Rizal menyebutkan, temanya memang disesuaikan dengan kondisi saat ini. Jadi, kata dia, pihak yang diundang pun seperti mulai dari lembaga keuangan internasional, perbankan baik pemerintah dan swasta hingga akademisi.

Para undangan seminar sehari ini akan berdiskusi dalam "The Intensifying Global Economic Turmoil: How Should Emerging Economies Respond?" Dari pihak lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) akan hadir Mahmood Pradhan, Penasihat Senior Departemen Asia Pasifik, yang hadir dari Washington DC. Kepala Ekonomi Citigroup Asia Pasifik, Johanna Chua, turut hadir dan akan memberikan pemaparan mengenai tantangan dan gambaran ekonomi global dari sudut pandang Citigroup.

Citigroup sendiri salah satu perusahaan finansial yang terbesar di dunia. Sekalipun besar, perusahaan ini sudah mulai mengalami imbas krisis Eropa dan Amerika Serikat, yakni pemotongan 4.500 pekerjaan akan dilakukan pada kuartal mendatang. Sudah tentu, keluh kesah krisis global dari perusahaan ini menarik untuk didengarkan.

Tidak luput pula Standard Chartered Bank dengan Nicholas Kwan akan hadir melengkapi pemaparan dari Citigroup.

Sementara itu, dari Indonesia, sejumlah pejabata yang aktif dan mantan akan juga hadir dalam seminar tahunan ini. Mereka adalah mantan Gubernur BI yakni AdrianusMooy dan J Soedradjad Djiwandono, dan Deputi Gubernur BI, Hartadi A Sarwono.

Hadir pula perwakilan dari Bank Sentral India hingga akademisi dari Korea Selatan. Mereka akan memberikan pemaparan pada sesi dua. "Sesi dua itu kita lebih banyak (mendengarkan) respon pengalaman dari masing-masing negara emerging market, kita undang dari India dan Korea (Selatan)," tambah Rizal.

Hasil dari pertemuan ini diharapkan bisa ditemukan langkah kebijakan moneter yang pas bagi negara-negara berkembang khususnya dalam mengantisipasi dampak krisis di Eropa dan AS yang tidak jua menemukan solusinya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau