Pakistan Perkuat Pertahanan Udara di Perbatasan Afganistan

Kompas.com - 09/12/2011, 22:22 WIB

ISLAMABAD, KOMPAS.com - Pakistan akan melengkapi pos-pos penjaga perbatasan mereka di sebelah barat, dengan senjata antipesawat untuk mencegah serangan pesawat-pesawat NATO dari Afganistan terulang. Sebagian sistem persenjataan itu dikabarkan sudah dipasang.

Ketua Komite Pertahanan Parlemen Pakistan, Javed Ashraf Qazi, mengatakan, pada pertemuan dengan pimpinan militer Pakistan, Kamis (8/12/2011) lalu, komandan operasi militer Pakistan, Mayor Jenderal Ashfaq Nadeem, mengatakan pihaknya sedang mempertimbangkan memasang senjata antiserangan udara di perbatasan dengan Afganistan.

Akhir November, 24 prajurit penjaga perbatasan Pakistan tewas setelah diserang helikopter dan pesawat tempur NATO. Insiden itu memicu reaksi keras dari Pakistan, dan memperburuk hubungan negara itu dengan AS.

Qazi mengatakan, pihak militer Pakistan akan memilih pos perbatasan mana saja yang akan dipasangi meriam antipesawat, karena tidak semua pos akan dipasangi senjata serupa.

"Kita tidak bisa memasang senjata ini di setiap pos. Kadang-kadang pos-pos ini diserang kelompok militan, dan kami bisa kehilangan senjata-senjata ini," tutur Qazi, yang menyatakan komite yang dipimpinnya mendukung penuh rencana militer ini.

Namun kantor berita AFP melaporkan, beberapa senjata ini telah dipasang di perbatasan. "Sekarang kami sudah memiliki sistem pertahanan udara yang lengkap di perbatasan Afganistan. Sistem ini bisa melacak dan mendeteksi setiap pesawat yang mendekat," tutur seorang pejabat militer di kota Peshawar, Pakistan barat laut, Jumat (9/12/2011).

Pejabat, yang tak disebut namanya karena tidak berwenang memberi keterangan kepada pers, itu, menambahkan, sistem pertahanan udara tersebut telah dimodifikasi sehingga mampu bereaksi cepat dengan menembak jatuh pesawat atau helikopter yang terdeteksi.

Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Ashfaq Pervez Kayani, telah memerintahkan pasukan Pakistan untuk langsung membalas setiap serangan tanpa perlu menunggu perintah komandan mereka. (AP/AFP/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau