PONTIANAK, KOMPAS.com- Gula putih produksi dari Jawa masih sulit menembus pasar Kalimantan Barat. Pasalnya, pasokan gula putih di Kalimantan Barat masih didominiasi gula ilegal asal Malaysia, walaupun polisi sudah beberapa kali mengungkap peredarannya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti) Kalimantan Barat Syarif Usman Jafar Almuthahar, Minggu (11/12/2011), mengatakan, kebutuhan gula putih untuk 4,3 juta jiwa warga Kalbar adalah sekitar 6.000 ton per bulan.
"Dari Juli hingga Oktober 2011, hanya 6.310 ton gula terkirim ke Kalimantan Barat. Padahal, pengusaha yang memiliki kartu pengusaha gula antarpulau terdaftar atau PGAPT memesan sekitar 10.800 ton sejak Juli hingga Oktober lalu," kata Usman.
Gula produksi dari Jawa sulit menembus pasaran Kalimantan Barat karena harganya jauh di atas harga gula ilegal asal Malaysia. Usman mengatakan, harga gula putih asal Jawa adalah Rp 10.000 per kilogram di gudang di Kota Pontianak. "Di pasaran, kira-kira harganya akan mencapai Rp 12.000 per kilogram. Padahal, harga gula selundupan asal Malaysia hanya Rp 9.000 di pasaran. Mereka ambil dari Malaysia paling-paling Rp 7.000 per kilogram," kata Usman.
Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Brigadir Jenderal (Pol) Unggung Cahyono mengatakan, sejak beberapa bulan lalu jajarannya sudah menangkap pelaku penyelundupan gula ilegal beserta puluhan ton barang bukti.
"Pemberantasan penyelundupan gula ilegal memang merupakan salah satu atensi kepolisian. Saya secara khusus memang menginstruksikan jajaran saya untuk giat memberantas peredaran gula ilegal karena merugikan perekonomian negara dan mengancam kesehatan masyarakat," kata Unggung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang