TAMBRAUW, KOMPAS.com- Sekitar lima bulan, SMP Negeri Persiapan Senopi, di Distrik Senopi, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, ditinggalkan guru dan murid-muridnya. Akibatnya, sebagian murid dititipkan di SMP di distrik terdekat dan sebagian lagi tidak bersekolah.
Ditemui pekan lalu, Ketua Komite Sekolah SMP Negeri Persiapan Senopi, Paulus Esiyah, mengatakan, aktivitas belajar mengajar hanya berlangsung di awal tahun ajaran. Saat konflik antarkampung terjadi, sekolah diliburkan karena siswa diajak mengungsi ke hutan oleh orangtuanya, sedangkan guru-gurunya mengungsi ke Manokwari, dan Distrik Kebar, distrik yang terdekat berjarak sekitar 20 km.
Pascakonflik, tidak ada satu pun guru yang kembali mengajar, baik guru PNS maupun guru honorer. "Dua guru honorer mau kembali, tapi mereka takut. Jadi sampai sekarang tidak ada yang mengajar," ujar Paulus.
Akibatnya, sebagian besar siswa tidak bersekolah selama satu semester. Orang tua murid yang masih peduli memilih menitipkan anaknya ke SMPN 9 Kebar. Sebagian lagi memilih tidak bersekolah karena l okasi sekolah jauh dan tak ada angkutan yang bisa membawa mereka pulang-pergi. Mereka dititipkan di rumah kerabatnya di Kebar.
Pastor Yan Wua di Distrik Senopi mengaku sudah ada orang tua dari empat siswa kelas IX yang meminta rekomendasinya agar bisa dititipkan di SMPN 9 Kebar. Yohanes Teniwud (56), Kepala Kampung Senopi mengaku khawatir dengan nasib siswa-siswa SMP kelas IX tidak bisa mengikuti ujian, karena berstatus titipan bukan pindahan. Sedangkan siswa kelas VII dan VIII, kebanyakan menunggu sekolah dibuka lagi.
"Tidak semua anak-anak kelas IX itu sekolah di Kebar, sebagian menunggu kapan sekolah ini dibuka," tambah Yohanes.
Paulus menambahkan, kepala sekolah SMPN Senopi tidak peduli dengan nasib anak didiknya, dan malah mengajar di SMP Kebar. Untuk itu, komite sekolah sudah meminta kepala sekolah baru kepada Dinas Pendidikan Manokwari, tetapi belum ditanggapi. Bukan hanya itu, guru-guru di SMP yang baru dibuka tahun 2008 dan memiliki siswa sekitar 50 murid, ini jarang mengajar.
Kondisi sekolah memprihatinkan
Sementara itu, kondisi satu-satunya SD di distrik, SD YPPK Senopi, ini sama saja. Selain guru-gurunya jarang datang mengajar, bangunan sekolah yang telah berusia lebih dari 40 tahun tersebut belum pernah direnovasi meski sudah rusak berat. Dinding dan lantai kayu sudah la puk, jendela bertirai bambu dan kawat rusak, serta plafon di tiap ruang kelas berlubang.
Kepala Sekolah SD YPPK Senopi Merry Gewab mengatakan belum pernah ada perbaikan pada bangunan sekolah. Perbaikan yang dilakukan hanya mengganti atap sengnya, padahal pondasi tiang bangunan sudah ambles akibat gempa.
Guru-guru sering khawatir plafon tiba-tiba runtuh, atau tiang pancang gedung sekolah amblas. Pemda sudah membuatkan tiga ruangan baru, (letaknya di seberang bangunan lama) tapi tidak selesai. Belum ada bangku untuk murid belajar. "Sudah lebih dari 1 tahun dibangun, tapi tidak bisa kami pakai," ujar Merry.
Meski rusak dan mengancam keselamatan siswa, kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan di kelas-kelas itu. Gabriel (9) siswa kelas II mengaku tidak takut walau kelasnya rusak. Dia tetap senang ke sekolah karena bisa belajar membaca dan tidak merasa terancam sedikitpun.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang