Sondang, Sang Revolusioner Telah Pergi

Kompas.com - 12/12/2011, 07:40 WIB

Oleh Agnes Hening Ratri

Sondang Hutagalung, lelaki berambut cepak dengan badan yang berisi itu memiliki tatapan tajam. Meskipun ia jarang berbicara namun terlihat kesungguhan dari matanya. Dalam setiap aksi yang diikutinya, ia tampak total. Seperti perjumpaanku kurang lebih 3 bulan lalu di aksi solidaritas untuk Papua akhir September lalu.

Sondang memerankan dirinya sebagai seorang militer yang kejam di Papua. Dengan memakai baju loreng dan senjata laras panjang, Sondang terlihat begitu gagah. Sepatu hitam yang dipakai pada saat itulah yang menemani kematiannya.

Sondang, lelaki muda berusia 22 tahun. Memiliki semangat juang yang tak dapat ditampik lagi. Keberadaannya ditengah-tengah komunitas aktivis di ibu kota telah menempanya menjadi pribadi yang kuat. Ia memiliki cara tersendiri untuk melakukan perlawanan.

Sebagai penggiat organisasi kemahasiswaan di Universitas Bung Karno, Sondang cukup dikenal dan dicintai oleh semua orang. Namun tidak semua orang mengerti tentang pilihan kematian baginya. Kehilangan pasti, sedih itu juga yang menjalar di wajah-wajah penggiat Hak Asasi Manusia sejak tengah malam 10 Desember.

Di atas meja sudut rumah duka RSCM, foto Sondang berjajar di tengah taburan bunga duka cita, sementara lilin menyala redup ditiup angin. Sondang tersenyum di tengah derai air mata semua orang yang menunggu dengan pedih kepastian jenasahnya akan dibawa kemana. Sondang, foto dengan tangan bersidekap itu seperti menemani semua wajah yang murung dan terluka.

Wajah tak kalah pedih ditunjukkan oleh keluarga Sondang, tangis seorang ibu pecah ketika mendengar ratusan mahasiswa bernyanyi, orasi dan meminta jenasah Sondang dibawa ke kampusnya tercinta, tempat ia ditempa perjuangan hidup dan kemanusiaan.

Di tengah kontroversi tentang pilihan Sondang dalam melakukan protes terhadap rezim ini, tentunya kita semua mengerti bahwa ini adalah bentuk protes putus asa terhadap pemimpin negeri ini. Di antara sejumlah aksi dengan berbagai cara untuk perubahan bangsa ini, ternyata semua membentur tembok, tetap gagu dan membisu.

Sondang dapat membaca keresahan keluarga korban pelanggaran HAM yang telah bertahun-tahun melakukan aksi diam di depan Istana, namun tak juga mendapat respon dari pemimpin negeri ini. Di tengah carut-marut kasus korupsi yang kian menjerat pemerintahan ini, ternyata tak cukup hanya dengan melakukan aksi dan tuntutan perubahan. Sondang merasakan keresahan itu luar biasa menghimpit dadanya.

Sondang telah menghentakkan publik dengan keberaniannya mengorbankan nyawanya. Kita ingat Mahatma Gandhi pernah melakukan aksi mogok untuk mencegah pertempuran antara orang-orang Hindu dengan orang-orang Islam dan walaupun beliau dihentikan sebelum maut, beliau kelihatan rela mati. Ini menarik perhatian kepada perjuangannya dan hormat yang amat kepada beliau sebagai seorang pemimpin rohaniah.

Wikepedia melansir pada decade 1960an Sami-Sami Budha khususnya Thich Quang Duc, di Vietnam Selatan telah menarik perhatian dunia Barat dengan melakukan aksi bakar diri hingga mati menentang Presiden No Dinh Diem. Peristiwa lain pada masa perang Dingin di Eropa Timur melalui kematian Jan Palach setelah serangan Kesatuan Soviet atas Czechoslovakia serta pengorbana diri Romas Kalanta di lebuh raya Kaunas, Lithunia pada tahun 1972. Pada November 2006, Milachi Ritscher seorang aktivis anti perang amerka Serikat, melakukan bunuh diri terhadap bantahan terhadap perang di Iraq.

Di Jepang bunuh diri dilakukan oleh tentara yang kalah perang atau gagal mempertahankan Negara memilih untuk menamatkan riwayat mereka melakui hara-kiri, atau potong perut dengan samurai.

Pada Desember tahun 2010 Muhammed Bouazizi (26) , melakukan aksi bakar diri di Tunisia. Aksi menyulut gelombang massa dan berhasil menumbangkan penguasa Tunisia, Presiden Zine al-Abidine Ben Ali yang sudah berkuasa 23 tahun. “Itu gerakan rakyat pertama yang menjatuhkan penguasa.”

Kemudian kita kembali ke Indonesia. Melihat carut marut politik Negara yang kian parah, korupsi menjadi bagian trend bagi pejabat publik. Bahkan menjadi gaya hidup bagi PNS muda akhir-akhir ini. Mengambil hak orang lain merupakan hal lumrah dan gaya hidup keren bagi kalangan penguasa. Bahkan hal itu dilakukan secara bersama-sama hingga tidak memikirkan nasib ribuan manusia lainnya. Kematian menjemput di berbagai tempat karena kemiskinan dan kelaparan. Semuanya dianggap wajar oleh pemimpin negeri ini, semua tetap berlanjut, seperti anjing menggonggong.

Sengkarut di negeri ini telah menohok sisi kemanusiaan seorang Sondang. Sebagai seorang revolusioner ia merasakan kegundahan luar biasa. Berbagai jalan telah ia tempuh, termasuk kematian untuk perubahan. Sondang telah memilih perjuangannya untuk perubahan bangsa ini, tanpa ingin melibatkan orang lain susah dalam kematiannya, termasuk ia merahasiakan rencana aksi bakar diri terhadap siapapun.

Sondang diakhir perjalanan hidupmu, engkau tersenyum menitipkan pesan pada kami semua untuk tidak larut dalam sedih atas kepergianmu. Hari ini tanah merah telah mendekap ragamu dalam sunyi. Namun tangan Tuhan telah merangkulmu dalam damai…

Pergilah kawan dalam sejarah yang tak terlupakan. Kami semua akan terus belajar untuk berjuang dengan cara kami, dengan tetap mengilhami perjalananmu yang kini abadi. Satu putra terbaik pertiwi telah pergi dalam tapal batas perjuangan yang belum berakhir…

Wasiat perlawanan telah Sondang torehkan. Tinggal kita semua melanjutkan apa yang telah ia mulai, buka mata wahai penguasa negeri bebal, rakyatmu sudah muak dengan kepemimpinanmu yang tidak pernah memihak rakyat…

Jakarta, 11 Desember 2011.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau