Gairah Perancang Muda di Bisnis Mode

Kompas.com - 12/12/2011, 11:40 WIB

KOMPAS.com - Dua pekan lalu, 24-27 November, penggemar label indie lokal di Jakarta dipuaskan oleh hadirnya acara Brightspot Market di Plaza Senayan. Sebanyak 130 label -80 persen di antaranya adalah label lokal- yang ditampilkan selama empat hari di stan-stan di dalam ruangan berbentuk hall mengundang perhatian sekitar 55.000 pengunjung.

Eldalia Wirjono, Anton Wirjono, Cynthia Wirjono, dan Leonard Theosabrata adalah beberapa anak muda pencetus Brightspot Market. Dua tahun lalu, mereka melihat kondisi makin menjamurnya produk mode buatan anak negeri. Namun, tak semua pemiliknya mampu memiliki tempat untuk memasarkan produk mereka. Atas dasar inilah, Brightspot digelar sebagai tempat promosi pemilik label indie.

Awalnya, ketika pertama kali diselenggarakan tahun 2009, hanya ada 25 label yang menjadi peserta dengan jumlah pengunjung sekitar 5.000 orang. ”Itu pun yang menjadi peserta baru teman-teman dekat kami yang sudah punya label,” kata Eldalia.

Pada penyelenggaraan kedua dan ketiga di tahun sama, publik mulai mengetahui keberadaan Brightspot Market. Dengan jumlah peserta 30-40 label, pengunjung meningkat menjadi 13.000-an orang. Puncaknya terjadi pada penyelenggaraan keempat di tahun 2010 ketika pengunjung membeludak mencapai angka 36.000 orang dengan jumlah peserta 45-50 label. Dan, pada penyelenggaraan ketujuh yang baru-baru ini digelar, jumlah label peserta sudah mencapai 130 dengan total pengunjung 55.000 orang.

Acara yang mempertemukan langsung produsen dan pembeli seperti Brightspot memang cukup efektif sebagai sarana promosi, selain melalui media online yang sering dipilih anak-anak muda pemilik label. Perancang muda Sisca Tjong (28) termasuk salah satu yang merasakan hal itu.

Sisca, pemilik bisnis busana siap pakai bernama Paperdolls Indonesia, sangat terbantu dalam promosi label yang dibuatnya tahun 2007 tersebut. Jika sebelumnya konsumen Paperdolls masih terbatas di kalangan teman, sejak menjadi peserta Brightspot Market di tahun 2009, konsumennya kian meluas.

Perancang lulusan sekolah mode Esmod tahun 2006 ini bahkan memperoleh penghargaan sebagai perancang muda paling berbakat dalam acara Cleo Fashion Awards pertengahan November lalu. Bersaing dengan Sisca saat itu adalah Felicia Budi dan Yasmina Yesy.

Acara yang menjadi bagian dari Indonesia Fashion Week (Pekan Mode Jakarta) 2012 ini juga memilih Milcah sebagai label lokal paling inovatif. Dua kandidat lainnya adalah Monday to Sunday dan Satcas.

Selain acara seperti Brightspot dan Cleo Fashion Awards, keberadaan label lokal di mal juga cukup menghidupkan produk mode buatan anak negeri. Lihat saja Level One di Grand Indonesia, Mazee di FX, The Goods Dept (Plaza Indonesia), atau department store seperti Metro dan Sogo. Tempat-tempat seperti ini membuat konsumen pencinta mode melirikkan mata mereka pada produk lokal.

”Perancang-perancang muda Indonesia sangat kreatif. Desain mereka tak kalah bagus dengan label asal luar negeri. Selain itu, banyak di antara mereka yang sudah mulai mengerti berbisnis,” kata perancang senior Ari Seputra, yang sejak Juni lalu merasakan persaingan dengan generasi muda ketika label siap pakainya, Major Minor, dijual di The Goods Dept.

Pengetahuan berbisnis
Memilih berbisnis di lini siap pakai memang mulai disadari generasi muda sebagai bagian penting untuk bertahan di dunia mode. Hanya saja, perlu banyak bekal pengetahuan yang harus dikuasai, selain menyajikan desain busana yang sederhana namun unik.

Dalam Lomba Perancang Mode di Pekan Mode Jakarta misalnya, masih ada peserta yang belum mampu menerapkan harga dengan tepat. Beberapa di antaranya menetapkan harga terlalu mahal atau bahkan terlalu murah.

”Saya belajar tentang pemasaran untuk menjalankan Paperdolls. Saat ini memang sudah ada tim yang membantu dalam pemasaran hingga saya bisa fokus pada desain. Tetapi, saya harus tetap mengawasi semuanya,” tutur Sisca.

Kleting (30), yang membangun label Kle di tahun 2009, bercerita ketika dia harus belajar tentang akuntansi pada temannya agar bisa menetapkan harga dengan tepat. Padahal, hitung-menghitung adalah bidang yang tidak dikuasai Kleting.

Untuk menjalankan bisnisnya, Kleting juga mempelajari cara menyiapkan materi promosi. Selain memperlihatkan produk baru di butiknya di Level One, dia selalu membagikan brosur koleksi rancangannya ketika mengikuti acara di tempat lain.

Pada tahun mendatang, selain mengeluarkan koleksi baru dengan warna-warna cerah, Kleting berencana memperkuat bisnis dengan memperbanyak koleksi busana dasar, seperti blus dan celana panjang dengan garis rancangan sederhana.

”Sebelum menjalani bisnis ini, saya memang sudah membayangkan tidak akan mudah. Tetapi ternyata, apa yang saya alami jauh lebih sulit dari yang diperkirakan,” ujar Kleting.

(Mawar Kusuma/Yulia Sapthiani)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau