Myanmar, Tanah Sejuta Candi Bata

Kompas.com - 13/12/2011, 14:57 WIB

Oleh Arbain Rambey

SETIAP fajar saat matahari mulai menjenguk permukaan bumi, Bagan di pedalaman Myanmar dipenuhi orang dari berbagai negara. Mereka sudah siap sejak dini hari, berangkat dari hotel masing-masing saat dunia masih gelap gulita. Satu yang mereka kejar, pemandangan terbitnya matahari dilihat dari puncak sebuah candi di sana.

Dan, pemandangan fajar di Bagan sungguh luar biasa. Matahari menyembul di antara stupa-stupa yang tampak di kejauhan. Sekeliling matahari pun dipenuhi siluet ratusan, bahkan ribuan candi yang lain. Matahari terbit yang begitu rutin di mana-mana jadi istimewa di sini.

Bagan adalah sebuah mantan kota lama di Provinsi Mandalay, Myanmar. Di awalnya, Bagan pernah bernama Arimaddana (Kota Penakluk Musuh), atau juga Tambadipa (Tanah Tembaga). Bagan didirikan pada awal abad ke-11 oleh Raja Anawrahta yang juga kemudian membangun hubungan dengan Sri Lanka dalam pengembangan agama Buddha.

Candi-candi di Bagan seluruhnya terbuat dari bata merah, mirip candi yang ada di Pulau Sumatera (Candi Muara Takus di Riau, Candi Muara Jambi di Jambi, dan Candi Padang Lawas di Sumatera Utara). Pada saat didirikan tercatat ada sekitar 13.000 candi yang ada. Sejalan dengan waktu, sampai tahun 1970-an masih tersisa sekitar 5.000 candi. Gempa besar pada tahun 1975 menyisakan 2.217 candi yang masih bisa kita saksikan sampai sekarang.

Ada beberapa candi besar di antara sekitar 2.000 candi di Bagan. Salah satu yang utama adalah Candi Ananda yang berisi patung Buddha berlapis emas setinggi lebih dari 20 meter. Di beberapa candi lain pun ada patung Buddha berlapis emas. Di beberapa candi yang lain lagi terdapat patung Buddha tidur yang panjangnya ada yang sampai 30 meter.

Untuk mengunjungi Bagan sampai segala pelosoknya diperlukan waktu setidaknya dua pekan. Tetapi, kalau Anda punya waktu sekitar seminggu untuk berwisata ke Myanmar, Anda bisa menyempatkan mengunjungi Bagan tiga hari di antaranya untuk kemudian memakai hari-hari sisanya mengunjungi berbagai obyek menarik lain seperti Danau Inle dan juga Kota Mandalay dan sekitarnya.

Mulai bangkit

Membicarakan pariwisata Asia Tenggara, Myanmar tentu tenggelam di bawah bayang-bayang Indonesia, Thailand, Malaysia, atau bahkan Singapura sekalipun. Pemerintahan di bawah junta militer selama bertahun-tahun membuat kunjungan ke negara ini relatif sulit sampai beberapa tahun yang lalu.

Namun, saat ini Myanmar sudah sangat berubah. Kunjungan ke negara itu kini sangat deras dari berbagai penjuru dunia. Untuk warga Indonesia, Anda tinggal mengurus visa kunjungan wisata di Jakarta beberapa hari sebelum keberangkatan. Bagi warga Indonesia, kunjungan ke sesama negara ASEAN tidaklah memerlukan visa, kecuali Myanmar dan Kamboja.

Pada kunjungan beberapa fotografer Indonesia ke Myanmar Oktober lalu, di seluruh penjuru negara itu sudah tersebar banyak sekali hotel dengan kualitas bagus. Bahkan, beberapa hotel unik di tengah Danau Inle, misalnya, justru dibuat oleh pemerintah militer dengan kualitas juga sangat bagus.

Ketertutupan dari dunia sebelumnya karena pemerintah militer yang ketat justru membuat segala hal di Myanmar terasa sangat asri dan original. Kapal-kapal dan kereta kuda wisata di mana pun di sana bebas dari papan iklan seperti yang biasa ada di Indonesia atau Thailand.

Dengan mata uang kyat yang nilainya sekitar Rp 10 per kyat, biaya hidup di Myanmar memang terasa sedikit lebih mahal daripada di Indonesia. Yang lebih mengagumkan, di pedalaman Myanmar mana pun, penjual cenderamata menggunakan dollar Amerika Serikat sebagai alat pembayaran.

Waktu di Myanmar adalah setengah jam (memang aneh, perbedaan setengah jam ini) lebih lambat daripada WIB. Jadi saat di Jakarta menunjukkan pukul 07.00 WIB, di Myanmar waktu menunjukkan pukul 06.30.

Mengunjungi Myanmar terbaik pada bulan Oktober karena pada bulan ini terdapat Festival Danau Inle yang sangat besar. Namun, untuk mengunjungi Bagan, waktu terbaik adalah di awal tahun saat musim dingin agar suasana Bagan bersih dari awan dan kabut. Dengan menyewa balon udara berbiaya 250 dollar AS (sekitar Rp 2,3 juta) per orang, Anda bisa memotret ribuan candi itu dari udara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau