Irak

AS Pergi, Sunni Cemas, tetapi Kubu Lain Senang

Kompas.com - 14/12/2011, 03:58 WIB

Isu bahwa pasukan Amerika Serikat akan meninggalkan Irak pada 31 Desember terus menuai reaksi antara gembira dan cemas. Bagi penduduk di Tikrit (130 kilometer arah utara kota Baghdad), berita soal tekad pasukan AS akan meninggalkan Irak justru memicu kecemasan.

Kota Tikrit yang dikenal sebagai kota kelahiran mantan Presiden Irak Saddam Hussein merupakan salah satu basis kaum Sunni di Irak. Saddam Hussein dikebumikan di Desa Al-Aouja (sekitar 15 kilometer arah selatan kota Tikrit).

Seorang warga Tikrit, Jassim Mohammed (57), seperti dikutip kantor berita AP, menyampaikan kecemasannya atas situasi di negerinya setelah pasukan AS terakhir meninggalkan Irak pada akhir bulan ini.

”Kepergian pasukan AS merupakan sebuah kegembiraan, tetapi perhatian kami adalah situasi pasca-kepergian pasukan AS itu. Satu hal yang pasti, perpecahan antara kaum Sunni dan Syiah akan semakin tajam pasca-kepergian pasukan AS,” kata Mohammed yang berprofesi sebagai guru di kota Tikrit.

Dalam komposisi kependudukan Irak, kaum Syiah merupakan mayoritas, yakni 60-65 persen dari penduduk Irak. Kaum Sunni hanya 32-37 persen dari total penduduk Irak. Selebihnya ada 3-5 persen penganut Kristen dan minoritas lainnya.

Irak selama ini belum menikmati stabilitas, dan perang dianggap belum selesai. Aliansi Al Qaeda dan sayap Partai Baath pimpinan mantan Wakil Ketua Dewan Revolusi Iran Izzat Ibrahim masih mampu melancarkan rangkaian serangan dan pengeboman di kota-kota Irak, bahkan di Baghdad. Milisi-milisi bersenjata loyalis Iran juga terus beroperasi.

Pertarungan kekuasaan antara kaum Kurdi di Irak utara dan pemerintahan Perdana Menteri Nuri al-Maliki di Baghdad masih berlangsung.

Wali Kota Tikrit Omar Tareq mengungkapkan, ”Kaum Sunni adalah yang pertama melakukan perlawanan terhadap pasukan AS, kemudian pasukan AS-kaum Sunni beraliansi melawan Al Qaeda. Namun, hubungan kaum Sunni dan kaum Syiah masih dingin.”

Penduduk Tikrit mendambakan hubungan Sunni-Syiah lebih baik, di mana setiap warga Sunni dan Syiah bisa bepergian ke mana saja tanpa takut ditembak oleh milisi bersenjata.

Diskriminasi

Akan tetapi, menurut warga Tikrit, Tamir Khalf Faleh, seperti dikutip kantor berita AP, penduduk Tikrit selama ini punya persepsi bahwa pemerintah Baghdad yang didominasi Syiah memperlakukan kaum Sunni berbeda dari kaum Syiah.

Menurut Faleh, yang mantan anggota militer pada era Saddam Hussein, pemerintah hanya menangkap kaum Sunni dan loyalis Partai Baath, serta mengabaikan pelaku kriminal atau milisi dari kelompok lain.

Keluhan serupa disampaikan Dhamin al-Jabouri, pejabat di Provinsi Salahudin, yang menjadi lokasi kota Tikrit. Menurut Al-Jabouri, pengangguran di Provinsi Salahudin mencapai 40 persen. Provinsi tersebut jarang mendapat bagian proyek investasi besar dari pemerintah.

Ia juga menyebutkan, pembubaran militer Irak dan Partai Baath menyebabkan banyak kaum Sunni menjadi penganggur, khususnya di kota Tikrit dan Provinsi Salahudin.

Ia menegaskan, kementerian-kementerian di pemerintahan Baghdad benar-benar mengabaikan Provinsi Salahudin.

Ketua Dewan Sunni di Provinsi Salahudin Ammar Yousif Hammoud juga mengatakan, pasukan militer sering datang dari Baghdad ke Provinsi Salahudin hanya untuk melakukan pengejaran atau penggerebekan. Ini juga dilakukan tanpa seizin atau tidak memberi tahu pemerintah lokal.

Namun, seorang warga minoritas Sunni yang bermukim di kota Tikrit, Ahmed al-Basrawi, menyampaikan keraguannya jika hubungan Sunni-Syiah lebih buruk pasca-kepergian pasukan AS. (mth)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau