Selamatkan Ibu-ibu di Papua

Kompas.com - 14/12/2011, 06:12 WIB

Oleh Timbuktu Harthana

Dari ibu yang sehat, akan terlahir bayi yang sehat pula. Namun, membentuk ibu hamil yang sehat di Papua Barat itu perjuangan. Keterbatasan dan keterlambatan mengakibatkan masih banyak ibu dan bayi meninggal saat dilahirkan.

Maria Ajopave (20) menggendong putra pertamanya berusia enam bulan. Hidung anak itu terus mengeluarkan ingus, dan menangis karena demam. ”Su (sudah) sebulan dia sakit. Saya su bawa ke puskesmas di Kebar, tapi belum sembuh juga,” ujar Maria usai berobat gratis dari balai pengobatan di Distrik Senopi, Kabupaten Tambrauw, yang digelar Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Sanggeng, Manokwari, Jumat (9/12).

Siang itu, lebih dari 20 ibu membawa anak-anak mereka untuk diperiksa dokter yang didatangkan dari Manokwari. Selama ini mereka jarang ke puskesmas atau rumah sakit guna mendapat pelayanan dari dokter karena tak ada di Distrik Senopi, atau Kebar, distrik terdekat. Sudah dua tahun tidak ada dokter yang bertugas di wilayah itu.

Bahkan, pelayanan imunisasi di puskesmas pembantu, kata Petrus Yewen, mantri di Distrik Senopi, sudah hampir tujuh bulan tak dilakukan karena kehabisan stok obat dan belum dikirim dari Dinas Kesehatan kabupaten setempat. Anak balita yang akan diimunisai harus pergi ke Kebar, berjarak 20 km, atau Manokwari berjarak 220 km.

Umumnya, ibu dan anak yang datang ke pengobatan gratis itu menderita sakit saluran pernapasan dan malaria. Hal ini disebabkan buruknya sanitasi dan kebersihan tempat tinggal, serta minimnya pemahaman kesehatan ibu-ibu sehingga belum bisa melakukan pencegahan. Hal ini pula yang terjadi pada kesehatan ibu yang hamil dan mempunyai anak balita.

Tahun lalu, menurut Petrus, ada dua anak balita meninggal setelah dilahirkan dan seorang ibu meninggal usai melahirkan. Satu bayi di Kampung Abogiar, meninggal dalam kandungan, dan satu bayi berusia satu bulan juga meninggal di Kampung Afrawi. Kedua bayi yang meninggal itu diduga akibat kurang gizi. Sementara ibu yang meninggal setelah bersalin karena pendarahan akibat anemia. Tahun sebelumnya terjadi kasus serupa, seorang bayi meninggal setelah dilahirkan.

Meski sudah ada bidan desa, perhatian ibu-ibu di kampung terhadap janin dalam kandungan atau bayinya masih kurang. Itu karena sosialisasi kesehatan ibu dan anak jarang dilakukan dan warga hanya datang ke puskesmas saat sakit.

Fasilitas sepeda motor dinas milik puskesmas pembantu setempat pun rusak sejak setahun lalu, sehingga mantri dan bidan tak bisa secara optimal melayani 1.500 jiwa penduduk di distrik itu secara optimal.

Sria Riawan (23), bidan desa di Puskesmas Minyambauw, mengatakan, ibu hamil di kampung kerap terlambat berobat. Bahkan, bidan dipanggil setelah terjadi masalah pada proses persalinan. Akibatnya, pertolongan yang diberikan terlambat karena pendarahan sudah terjadi.

”Tenaga medis datang lebih dari dua jam, atau melebihi batas rata-rata waktu selamat saat pendarahan. Hal ini karena ibu hamil jarang memeriksa kandungannya dan tidak mengetahui komposisi asupan gizi yang baik baginya,” kata Sria.

Tergolong tinggi

Menurut Gonzales, dokter yang juga Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan KB Papua Barat, kasus kematian ibu-bayi di Papua Barat masih tinggi. Tahun 2009, tercatat 39 kasus ibu meninggal saat dan setelah melahirkan. Tahun 2010 meningkat jadi 59 orang. Penyebab utamanya adalah pendarahan, infeksi, dan keracunan kehamilan.

Selain itu, ada tiga faktor ikut memicu tingginya kematian ibu hamil. Pertama, terlambat memutuskan dibawa ke puskesmas atau bidan. Masih banyak ibu di kampung melahirkan hanya dibantu orang tua atau dukun, tanpa pertolongan bidan dan dokter. Bahkan, untuk dibawa dan melahirkan di puskesmas saja harus dapat persetujuan keluarga suami lebih dulu. Menunggu suami pulang dari berburu atau kebun kadang mengakibatkan ibu hamil terpaksa melahirkan di rumah.

Jika dapat izin suami pun, untuk pergi ke puskesmas yang jauh tak gampang, sebab angkutan belum ada setiap saat dan kondisi jalan pun jelek. Sering kali, puskesmas terdekat tidak lengkap alat kesehatannya dan obat-obatan. Risiko kematian ibu dan bayi semakin tinggi jika ibu hamil terlalu muda usia atau terlalu tua, serta terlalu sering hamil atau sering melahirkan.

Bagi ibu yang terlalu sering hamil, fisiologis cenderung turun akibat jarak kehamilan yang pendek. Padahal, minimal jarak antarkehamilan adalah dua tahun.

”Jadi, penyebab kematian ibu dan bayi di Papua sangat kompleks, sehingga membutuhkan penanganan yang menyeluruh dari hulu sampai hilir,” ujar dokter Gonzales.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Papua Barat, Victor Nugraha, memperkirakan jumlah ibu hamil dan bayi yang meninggal saat atau setelah dilahirkan lebih banyak dari data tercatat. Besar kemungkinan ibu-ibu hamil di Papua yang angka kematiannya tinggi. Sebab, tenaga medis, khususnya bidan, belum tersebar merata di tiap distrik, terutama di daerah yang sulit terjangkau dan jauh dari kota kabupaten. Penyebaran bidan tidak merata, hanya terpusat di kota.

Dari 800 bidan yang ada, hanya 300 bidan yang tinggal di desa, selebihnya ada di rumah sakit dan puskesmas. ”Jika dilihat dari rasio jumlah penduduk, jumlah bidan mencukupi. Tapi, desa di Papua ini tersebar, dan tidak banyak bidan yang mau ditempatkan di desa terpencil,” kata Victor.

Guna mengurangi angka kematian ibu melahirkan, Dinkes Papua Barat merintis pembangunan empat puskesmas yang mampu menangani kasus kehamilan sulit, atau Puskesmas Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergency Dasar (PONED). Masing-masing dua Puskesmas Poned di Kabupaten Sorong dan Manokwari itu bisa beroperasi tahun 2012 untuk melayani distrik yang jauh dari rumah sakit.

Lince Sedik (38), kader KB di Distrik Senopi, menuturkan, sebenarnya mulai banyak ibu yang dibantu bidan saat melahirkan. Ibu-ibu juga mulai mengikuti program keluarga berencana (KB), tapi jumlah anak mereka masih 3-5 orang. Persoalannya, asupan gizi bagi ibu hamil dan menyusui belum terpenuhi dengan baik. Mereka hanya makan seadanya tanpa mengonsumsi susu karena harga-harga kebutuhan pokok yang mahal.

Sebenarnya, menurut Victor, makanan sehat tidak harus dipasok dari kota karena di desa-desa di Papua Barat tersedia bahan makanan bergizi, seperti ikan, sayuran, kacang-kacangan, dan petatas. Yang penting para ibu dan keluarganya memahami komposisi asupan makanan bergizi bagi ibu hamil, risiko pendarahan akibat anemia bisa dikurangi.

”Semua makanan bergizi sebetulnya tersedia juga di kampung, tetapi mungkin mereka (warga dan ibu hamil di kampung) belum mengetahuinya,” ujar Victor yang mengaku butuh keseriusan untuk menekan angka kematian ibu hamil di Papua Barat.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau