JAKARTA, KOMPAS.com - Harga minyak mentah kembali naik menyusul rencana Iran menutup Selat Hormuz untuk latihan perang. Penutupan itu membuat eksplorasi minyak di Selat Hormuz terhenti.
Ekonom Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih, di Jakarta, Rabu (14/12/2011), menyatakan, spekulan memanfaatkan ketegangan ini dengan menekan harga minyak mentah, walaupun saat ini cenderung masih berada di kisaran 96-1 10 dollar AS per barrel untuk jenis WTI.
Pada saat yang sama, permintaan terhadap dolar AS meningkat sehingga berdampak pada melemahnya harga emas, terendah dalam tujuh minggu terakhir, karena the Fed tidak mengambil tindakan moneter yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi.
"Hasil FOMC semalam dianggap tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, yang mengharapkan ada tambahan stimulus moneter yang mendorong ekonomi AS," kata Lana. Indeks Dow pun merespon negatif hal itu dengan turun 0,6 persen .
Menurut Lana, sentimen ini bisa membuat pasar Asia melanjutkan koreksi pada hari ini. Rupiah kemungkinan juga akan melemah, tetapi diperkirakan Bank Indonesia akan menjaga pasar, jika kurs tertekan di atas Rp 9.150 per dollar AS.
Lana mem perkirakan rupiah akan berada pada kisaran Rp 9 .090-Rp 9.120 per dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang