Jembatan Putus, Tanaman Padi dan Kakao Terendam

Kompas.com - 14/12/2011, 15:04 WIB

PALU, KOMPAS.com - Sebuah jembatan desa putus dan puluhan hektar tanaman kakao serta padi terendam akibat banjir yang terjadi di perbatasan Kecamatan Palu Utara, Kota Palu dan Kecamatan Tana Ntovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (40 km Utara Kota Palu), Selasa (13/12/2011) malam.

Hingga Rabu (14/12/2011) siang, jembatan yang menghubungkan Kota Palu dengan sejumlah desa di Kabupaten Donggala ini, masih belum bisa dilalui kendaraan. Aliran listrik juga masih putus. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Banjir terjadi Selasa malam akibat meluapnya Sungai Wombo yang mengalir dari Ke camatan Tana Ntovea di Donggala hingga Kecamatan Palu Utara, Kota Palu.

Luapan sungai yang deras membuat penyangga atau dudukan yang menghubungkan badan jalan dengan konstruksi jembatan, jatuh dan menyebabkan jembatan ambruk. Lebar sungai tepatnya dimana jembatan berada, yang sebelumnya 61 meter, saat ini menjadi l ebih 100 meter akibat sisinya tergerus luapan air.

Saat ini warga Tana Ntovea yang akan ke Kota Palu dan juga sebaliknya dan biasanya melalui jembatan di Sungai Wombo terpaksa memutar melewati jalan alternatif di Desa Wani, Kecamatan Tana Ntovea.

Selain jembatan, dua buah bendungan desa juga rusak total akibat terbawa air. Puluhan rumah terendam, termasuk puluhan hektar tanaman padi dan kakao. Hingga Rabu siang, aliran listrik juga masih putus, termasuk saluran air bersih. Rusaknya saluran air bersih bukan hanya menganggu kebutuhan air bersih warga di lokasi banjir tapi juga hingga ke sebagian warga Kelurahan Pantoloan, Palu. Hal ini disebabkan kebutuhan air bersih untuk sebagian warga Pantoloan, Palu bersumber dari Sungai Wombo.

Ridwan (30), salah seorang warga Kelurahan Pantoloan mengatakan,luapan air terjadi Selasa malam sekitar pukul 19.00 wita. Hujan memang sudah mulai turun deras sejak jam empat sore.

"Sekitar jam tujuh malam, saya tiba-tiba mendengar suara seperti gemuruh. Ternyata aliran sungai sangat deras dan membuat jembatan rubuh. Untung tidak ada korban. Runruhnya jembatan membuat aliran air naik hingga rumah warga," katanya.

Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah dari Partai persatuan Pembangunan, dae rah pemilihan Donggala, Asgar Djuhaepa yang berkunjung ke lokasi banjir Rabu pagi, mendesak pemerintah agar penanganan banjir ini dilakukan secepatnya dan melibatkan instansi teknis yang terkait.

Urusan pertanian, air bersih, dan listrik, bendungan, termasuk perbaikan jembatan harus segera ditangani. Seluruh dinas yang terkait dengan urusan ini harus segera turun tangan agar warga tidak terlalu lama dalam kesulitan, kata Asgar. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau