Mahasiswa Indonesia di Amerika Unjuk Rasa atas Kematian Sondang

Kompas.com - 14/12/2011, 23:06 WIB

OHIO, KOMPAS.com — Unjuk rasa atas tewasnya Sondang Hutagalung akibat aksi bakar diri tidak hanya berlangsung di Indonesia, tetapi juga dilakukan di Amerika Serikat (AS). Selasa (13/12/2011) waktu setempat, puluhan mahasiswa Indonesia berunjuk rasa di Athens, Ohio, AS, untuk menyatakan solidaritas atas tewasnya Sondang.

Yusran Darmawan, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Amerika Serikat, melaporkan, dalam unjuk rasa itu mahasiswa membentangkan poster dan menyanyikan lagu perjuangan di depan gerbang utama kampus Ohio University (OU). Mereka dikoordinasi oleh Persatuan Mahasiswa Indonesia Amerika Serikat (Permias) Athens yang dipimpin Yazid Sururi.

Menurut Yusran, aksi ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa Indonesia, tetapi juga beberapa mahasiswa internasional. Beberapa mahasiswa Amerika yang sebelumnya tergabung dalam gerakan Occupy Ohio, yang merupakan rentetan aksi Occupy Wall Street dan kemudian menyebar ke seluruh AS dan dunia internasional, ikut bergabung dengan aksi ini.

Aksi ini juga diikuti dengan pembagian selebaran yang berisikan apa yang terjadi di Indonesia, serta pernyataan sikap agar Pemerintah Indonesia memerhatikan aspirasi gerakan sosial dan mencermati harapan banyak elemen masyarakat yang tidak tersalurkan.

Menurut Presiden Permias Athens Yazid Sururi, aksi ini adalah pernyataan solidaritas bersama. "Kami tidak hendak mempersoalkan metode yang dipilih Sondang, sebagaimana yang dipermasalahkan banyak pihak di Tanah Air. Kami melihat substansi yang dikemukakan bahwa terdapat sejumlah agenda mendesak di bidang hak asasi manusia dan keadilan yang seharusnya direspons dengan cepat," kata Yazid seperti dilaporkan Yusran.

Ia menuturkan, aksi ditempuh setelah mengadakan diskusi secara intens sebelumnya selama beberapa kali dengan beberapa mahasiswa Indonesia dan mahasiswa internasional yang memiliki perhatian yang sama atas penegakan hak asasi manusia serta hasrat yang sama terhadap keadilan dan kesetaraan.

Menurut Yazid, aksi Sondang ini sempat menghebohkan beberapa elemen gerakan sosial di Amerika, khususnya di kota kecil Athens. Terlebih lagi, aksi tersebut dimuat dalam beberapa media besar, antara lain The Washington Post. Beberapa mahasiswa internasional lalu menganalisis kejadian itu dan membandingkannya dengan aksi bakar diri yang dilakukan seorang pemuda di Tunisia.

Megan Snow (25), warga Amerika yang tengah belajar di Program Pascasarjana bidang South East Asian Studies, juga mengikuti aksi ini sejak awal. "Saya selalu sedih setiap kali mendengar berita tentang pemuda yang bakar diri. Bagi saya, persoalan yang mendesak adalah mengungkap apa alasan yang menjadi motif aksi tersebut," katanya saat membentangkan spanduk bertuliskan "No More Victim".

Aksi ini sempat menghebohkan Court Street, tempat dilangsungkannya aksi ini. Namun, aksi itu tidak sampai memacetkan arus lalu lintas sebab tujuannya hanyalah untuk menyampaikan informasi bahwa seorang pemuda Indonesia tewas karena bakar diri demi perubahan sosial.

Beberapa pengguna jalan yang tertarik langsung singgah untuk berdiskusi tentang apa yang terjadi. Sementara itu, sebagian lainnya tetap melintas setelah sebelumnya membaca selebaran yang dibagikan. Beberapa pengemudi kendaraan bermotor juga langsung membunyikan klakson sebagai pertanda dukungan. Ada pula yang singgah dan meneriakkan dukungan.

Senada dengan itu, Lizzy (23), mahasiswa Polical Science, juga merasa simpati atas aksi yang dilakukan mahasiswa Indonesia tersebut. Awalnya, Lizzy hanya melintas. Namun saat melihat aksi itu, ia langsung bergabung sebab memiliki keterikatan batin dengan Indonesia. "Saya belum pernah ke Indonesia. Tapi beberapa sahabat saya ada di sana. Saya yakin Indonesia akan menjadi bangsa besar, sepanjang aspirasi pemudanya bisa didengarkan. Ini yang menjadi tantangan bagi Pemerintah Indonesia di masa depan."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau