Metode Dongeng Bertema Lingkungan dari IPB

Kompas.com - 15/12/2011, 12:38 WIB

BOGOR, KOMPAS.com--Tim mahasiswa Departemen Biologi IPB menemukan metode mendongeng melalui media boneka tangan, layar karikatur, teater, dan pantomim yang telah dimodifikasi dengan mengusung tema lingkungan.

Menurut keterangan tertulis Humas IPB di Bogor, Rabu, tim mahasiswa dengan arahan dosen pendamping Dr Triadiati, M.Si tersebut terdiri atas Siti Lutfiyah Azizah, Nurul Hikmawati, Siti Suraehah Tul Azhari, Fitria Dewi, dan Shofia Mujahidah.

Ketua tim Siti Lutfiyah Azizah menjelaskan, pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, khususnya meletakkan sampah pada tempatnya perlu diajarkan keapda anak sejak dini.

Pembentukan karakter "green kids", katanya, akan membuat anak terbiasa menjaga lingkungan sejak usia dasar dan berdampak pada kebersihan lingkungan masyarakat dan negara.

Kini tradisi mendongeng di kalangan anak-anak Indonesia menurun seiring dengan maraknya permainan-permainan modern masa kini.

Di tengah maraknya permainan modern, tim mahasiswa IPB itu menciptakan "Si Edo" (edukasi-dongeng) sebagai media pendidikan yang mengangkat dongeng sebagai media alternatif dalam pembentukan karakter "greenkids" bagi siswa SD di Dramaga, Bogor.

Ia menjelaskan, dongeng adalah cerita legenda di suatu daerah tertentu, baik berupa cerita rakyat, fabel, ataupun cerita lainnya. Dongeng merupakan tradisi nenek moyang kita dalam menanamkan nilai-nilai luhur kemasyarakatan kepada anak-anak.

Media dongeng dapat membentuk kecerdasan emosional dan karakter positif seseorang yang ditanamkan sejak kecil.

"Sebelum memulai program ini kami telah melakukan pengamatan singkat. Hasilnya adalah kurangnya kesadaran anak-anak usia pendidikan dasar untuk meletakkan sampah pada tempatnya. Kurangnya media sosialisasi untuk meletakkan sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan," katanya.

Selain itu, juga terbatasnya peran sekolah dalam menyosialisasikan kebersihan lingkungan yang lebih spesifik, sehingga pembelajaran mengenai kebersihan lingkungan membutuhkan realisasi dan contoh yang konkret.

Alternatif

Menyikapi kondisi tersebut, perlu metode alternatif untuk meningkatkan kesadaran anak-anak agar peduli dengan lingkungan sekitar, khususnya membiasakan diri untuk meletakkan sampah pada tempatnya.

"Tujuan kami adalah untuk mengangkat kembali budaya mendongeng dan mengajarkan anak-anak untuk sadar akan kebersihan lingkungannya, khususnya meletakkan sampah pada tempatnya. Kegiatan ini telah dilaksanakan selama delapan kali pertemuan dan menghasilkan delapan naskah variasi dongeng yang telah dipublikasikan dalam bentuk buku dongeng dan film DVD dongeng ’Si Edo’," katanya.

Melalui metode ini, kata dia, siswa mampu menceritakan kembali isi cerita tersebut dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama mengenai pentingnya kebersihan lingkungan.

Agar menarik perhatian anak, ikon "Si Edo" pun dibuat, yakni berupa kostum berbentuk tempat sampah yang terbuat dari busa api yang mudah dibentuk.

Ikon ini berfungsi sebagai alat peraga untuk mencontohkan pada siswa tindakan yang benar dalam menjaga kebersihan lingkungan, dan dibuat menarik seperti kartun agar siswa tertarik untuk meletakkan sampah pada tempat sampah.

Peragaan membuang sampah ke dalam ikon "Si Edo" dilaksanakan setelah kegiatan dongeng berakhir.

Program "Si Edo" diujicobakan di SDN 04 Dramaga, Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, tepatnya ditujukan pada siswa kelas 1 B SD 04 Dramaga.

Alasan dipilihnya SDN 04 Dramaga sebagai sekolah sasaran karena beberapa pertimbangan, di antaranya adalah SDN 04 Dramaga memiliki potensi yang besar dan memiliki peraturan-peraturan yang cukup jelas terkait kebersihan.

Sementara itu, alasan pengkhususan dan pengambilan sampel dari kelas 1B pada program ini dikaitkan dengan program yang diusung, yaitu pembiasaan meletakkan sampah pada tempatnya yang ditanamkan sejak usia pendidikan dasar untuk pembentukan karakter "greenkids".

Selain itu, karakter siswa 1 B yang lebih variatif ketimbang kelas 1 lainnya memudahkan program berjalan sesuai tujuan.

Kelas 1 B sendiri memiliki jumlah 33 siswa, yang terdiri atas 22 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan.

Setelah dilaksanakan dan dievaluasi, hasilnya menunjukkan bahwa 100 persen siswa senang dengan metode dongeng yang diajarkan, untuk metode dongeng yang paling disukai hasilnya 40 persen pantomim, 30 persen teater, 20 persen boneka tangan dan 10 persen layar karikatur.

Selain itu, kata dia, seluruh siswa mampu menceritakan kembali peran tokoh dari setiap dongeng, dan yang paling penting ternyata seluruh siswa mampu memahami peran tokoh dongeng dalam menjaga kebersihan dan seluruh siswa juga sudah melaksanakan atau menerapkan membuang sampah pada tempatnya.

Ia menjelaskan, "Si Edo" dianggap unik karena dongeng yang diceritakan sekolah biasanya berupa cerita yang ada di buku sekolah dan hanya diceritakan kembali oleh guru.

"Namun ’Si Edo’ memunculkan inovasi terhadap metode dan media penyampaian dongeng yang diberikan lewat empat media, yaitu boneka tangan, layar karikatur, pantomim, dan teater. Selain itu, naskah dongeng pun diubah dan dibuat sehingga menjadi dongeng-dongeng lingkungan," katanya.

Menurut dia, "Si Edo" sangat bermanfaat bagi anak-anak dalam pembentukan karakter "green kids" sehingga terbiasa menjaga kebersihan lingkungan.

Selain itu, membantu para guru atau pendidik untuk mampu menerapkan metode mendongeng dalam menjaga keberlangsungan karakter green kids, dan secara umumnya bagi masyarakat karena kondisi lingkungan akan semakin bersih dan asri.

Ditegaskan bahwa jika karakter "green kids" telah terbentuk dan terinternalisasi sejak kecil, karakter yang terbentuk akan membiasakan anak-anak untuk mandiri bertindak dalam menjaga kebersihan, bahkan mampu memunculkan ide-ide kreatif anak-anak dalam menjaga kebersihan.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau