Pakistan, Kamis (15/12), marah dan mengecam Amerika Serikat yang hendak membekukan dana 700 juta dollar ke Pakistan. Usul pembekuan bantuan itu lahir dalam ruang rapat Kongres AS, Rabu. Pakistan menyebut sikap baru AS ini tidak bijaksana karena hal itu akan terus memperburuk hubungan keduanya.
Pakistan adalah salah satu penerima terbesar bantuan luar negeri AS. Jumlah dana yang dibekukan ini merupakan sebagian kecil dari miliaran dollar yang disalurkan per tahun. Keputusan Kongres AS bisa saja merupakan awal dari pemotongan bantuan lebih besar lagi, yang mungkin akan dilakukan AS berikutnya.
AS telah mengalokasikan dana bantuan puluhan miliar dollar untuk keamanan dan bantuan ekonomi ke Pakistan sejak tahun 2001. Sebagian besar dalam bentuk penggantian biaya untuk bantuan dalam memerangi militan Taliban dan Al Qaeda.
Usulan pembekuan dana sekitar 700 juta dollar itu dilakukan karena ada kekhawatiran Islamabad tidak berbuat cukup untuk melawan penyebaran bom rakitan. ”Kami yakin langkah di Kongres AS itu tidak didasarkan pada fakta,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Abdul Basit, kepada wartawan, Kamis di Islamabad. ”Langkah itu merefleksikan visi yang sempit terhadap keseluruhan situasi Pakistan. Hasilnya pasti salah,” ujar Basit.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Victoria Nuland, sebelumnya mengatakan, usul penghentian bantuan tidak otomatis memotong dana itu. Meski demikian, seperti apa hasil akhirnya bergantung pada pencapaian kemajuan di Pakistan dalam penanggulangan bom rakitan.
”Kami takkan memotong begitu saja bantuan 700 juta dollar itu,” kata Victoria Nuland sambil menambahkan, AS akan melakukan sesuatu pada RUU pengeluaran pertahanan yang kini ada di Kongres.
AS, kata Nuland, mensyaratkan departemen pertahanan untuk terus melanjutkan strategi tentang bagaimana AS akan menggunakan sistem militer tertentu dan menghitung kemajuannya. ”Khususnya kemajuan apa yang kita capai dalam masalah bom rakitan,” ujarnya.
Rancangan untuk pembekuan dana itu seolah hendak membalas langkah Pakistan yang telah menutup jalur logistik NATO, koalisi yang dipimpin AS, di perbatasan ke Afganistan. Bahkan, Islamabad juga telah memaksa AS mengosongkan sebuah pangkalan utama militernya di Pakistan. Kini AS malah hendak menghentikan bantuan dana.
Padahal, komandan pasukan AS di Afganistan, Jenderal John Allen, Rabu (14/12), mengatakan, hubungan AS-Pakistan sudah mencair lagi. Pernyataan itu merujuk pada hasil pembicaraannya yang ramah dan bersahabat dengan Kepala Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Ashafaq Pervez Kayani hari Senin.
Allen mengatakan, dia dan Kayani berkomitmen bekerja sama untuk menyelesaikan insiden berdarah di perbatasan, 26 November lalu. Saat itu, dalam sebuah operasi NATO yang dipimpin AS, 24 tentara Pakistan yang sedang berperang melawan Taliban tewas dan belasan lainnya terluka parah.
Hubungan AS-Pakistan belakangan ini tidak begitu mesra lagi. Padahal, Pakistan sangat penting dalam geopolitik Asia Selatan yang kompleks, termasuk masalah Kasmir dan Afganistan. Peran Pakistan amat penting dalam memerangi Taliban di Afganistan sebab mereka bertetangga. Pakistan memiliki kedekatan kulturalnya dengan Afganistan.
Persoalan yang membuat hubungan AS-Pakistan retak sudah dimulai sejak upaya Navy SEAL, AS, mengeksekusi petinggi Al Qaeda, Osama bin Laden, awal Mei lalu. Pakistan bereaksi keras karena operasi itu tidak melibatkan pasukan tuan rumah dan Islamabad merasa diabaikan.
Masalah lain, teknologi nuklir Pakistan juga dirisaukan AS. Belum lagi Islamabad merisaukan serangan pesawat tidak berawak AS ke Taliban, tetapi sering menyasar ke sipil, aparat, dan aset pemerintah Pakistan.