Belasan Rumah Hancur Diterjang Lahar Gamalama

Kompas.com - 16/12/2011, 03:10 WIB

TERNATE, KOMPAS.com — Belasan rumah di sejumlah lokasi di Ternate, Maluku Utara, mengalami rusak berat dan ringan akibat diterjang banjir lahar dingin letusan Gunung Gamalama menyusul hujan deras yang melanda daerah ini pada Rabu (14/12/2011) malam.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate Jimmy D Brifing mengatakan di Ternate, Kamis, sebanyak empat jembatan di beberapa lokasi di Ternate juga terputus akibat terjangan banjir lahar dingin letusan Gunung Gamalama tersebut.

Sebanyak 43 rumah di Kelurahan Salahuddin dan Kelurahan Moyo, Kecamatan Kota Ternate Tengah, juga terendam banjir akibat hujan deras selama 4 jam pada Rabu malam. Namun, banjir itu kini surut dan hanya menyisakan endapan lumpur dan batang kayu.

"Korban jiwa akibat banjir tersebut tidak ada. Namun, ada sejumlah warga mengalami luka akibat terkena pecahan kaca dan seng saat berusaha menyelamatkan barang-barang mereka yang terendam banjir," katanya, Kamis (15/12/2011).

Ratusan warga di Kelurahan Tubo, Kecamatan Ternate Utara, juga mengungsi setelah banjir lahar dingin merusak sejumlah rumah dan menggenanggi daerah yang merupakan kawasan titik rawan letusan Gunung Gamalama itu.

Ia mengatakan, warga yang mengungsi tersebut ditampung di sejumlah titik lokasi penampungan bersama dengan warga lainnya yang mengungsi dua pekan lalu sesaat setelah Gunung Gamalama meletus.

Tim dari BPBD Kota Ternate bersama dengan relawan dari Tagana serta anggota TNI dan Polri diturunkan ke daerah-daerah yang diterjang banjir tersebut. Mereka membersihkan material lumpur dan kayu yang menutupi jalan.

Sementara itu, Wali Kota Ternate Burhan Abdurrahman saat meninjau lokasi yang diterjang banjir lahar dingin tersebut meminta kepada warga untuk tetap tenang, tetapi harus waspada karena tidak tertutup kemungkinan banjir serupa akan terjadi.

Masalahnya, saat ini di Ternate memasuki musim hujan, sementara material lahar dingin letusan Gunung Gamalama masih banyak mengendap di puncak dan lereng gunung yang setiap saat akan turun ke bawah terbawa air hujan.

Ia meminta kepada warga Ternate agar tidak lagi membangun rumah di pinggir kali, apalagi sampai mempersempit alur kali untuk bangunan rumah atau bangunan lainnya yang dapat mengganggu fungsi kali itu.

Salah satu penyebab terjadi banjir di Kota Ternate selama ini adalah alur sungai yang menjadi saluran air hujan dari daerah ketinggian semakin menyempit menyusul banyak warga membangun rumah di sepanjang pinggir kali.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau