Tragedi mesuji

Penyelidik Komnas HAM Ragukan Data Korban Mesuji

Kompas.com - 16/12/2011, 07:58 WIB

MESUJI, KOMPAS.com — Komisioner Komnas HAM Johny Nelson Simanjuntak meragukan akurasi dan kebenaran data dari kelompok masyarakat adat Megou Pak yang menyebutkan ada 30 warga Mesuji, Lampung, yang tewas akibat pembantaian oleh aparat.

"Memang data tersebut tidak didasarkan pada data lapangan. Sebenarnya ada banyak peristiwa yang terjadi. Ada pembunuhan, ada penyiksaan, ada penangkapan sewenang wenang oleh aparat. Namun, yang terbunuh tidak sebanyak itu," kata Johny melalui pesan singkat, Kamis malam tadi.

Johny Nelson merupakan salah satu komisioner Komnas HAM yang melakukan investigasi langsung terkait konflik agraria di Mesuji, Lampung, tahun ini. Penyelidikan ini terutama terkait dengan serangkaian penggusuran lahan warga di kawasan Register 45.

Aktivis Aliansi Gerakan Reformasi Agraria Lampung, Oki Hajiansyah Wahab, juga meragukan akurasi soal data yang diajukan Megou Pak di DPR, beberapa waktu lalu. Menurut penggiat persoalan konflik agraria di Lampung ini, sejak 1997, tercatat hanya ada tiga korban tewas langsung oleh aparat terkait sejumlah konflik agraria di Mesuji, khususnya di kawasan Register 45.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau