Pariwisata Jangan Memiskinkan Masyarakat Setempat

Kompas.com - 16/12/2011, 21:51 WIB

SALATIGA, KOMPAS.com - Keberadaan tempat wisata seharusnya menyejahterakan masyarakat setempat, bukan malah membatasi akses dan memiskinkan masyarakat. Oleh karena itu dalam mengembangkan sebuah kawasan pariwisata, kapasitas masyarakat perlu dilibatkan dan ditingkatkan.

Hal itu terungkap dalam ujian Program Doktor Studi Pembangunan Alexander Johannes Wowor di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah.

Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Utara itu mencermati bagaimana pariwisata berkembang, namun tidak bisa dinikmati oleh masyarakat sekitarnya.

Wowor mencontohkan, di Taman Nasional Bunaken, sejak masyarakat menjual tanah mereka untuk investor, mereka justru tidak mendapat keuntungan. Masyarakat yang bekerja di resor milik investor, hanya mendapat gaji yang minim. Keuntungan terbesar masuk ke kantong investor.  

Kondisi seperti itu memunculkan konflik, karena masyarakat setempat merasa tersingkir. Masyarakat juga merasa pemerintah lebih berpihak pada pengusaha. "Akhirnya muncul perlawanan terhadap pemerintah," katanya.

Oleh karena itu, menurut Wowor, pemerintah perlu menggandeng semua pihak, yaitu investor dan masyarakat setempat. Kepentingan masyarakat tidak boleh diabaikan, dan pemerintah perlu mendengar aspirasi rakyat.

Model pengembangan wisata yang dipilih harus yang berbasis masyarakat lokal. Hal pertama yang harus dilakukan adalah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi buruh, tetapi menjadi pengusaha di tempat wisata.

Menurut Wowor, jumlah obyek wisata di Provinsi Sulawesi Utara terus berkembang dari 545 obyek pada tahun 2010, menjadi 634 obyek wisata pada tahun 2011.

Jumlah kunjungan wisatawan juga terus naik dari 32.760 orang pada tahun 2008 menjadi 495.000 orang pada 2009.

Gubernur Sulut, Sinyo Harry Sarundajang, yang hadir dalam kesempatan itu, mengatakan, pariwisata merupakan sektor unggulan di Sulut . Dia juga mengakui bagaimana masyarakat masih sebatas menjadi obyek dari sektor tersebut.

Pemerintah provinsi, dalam hal ini menyoroti persoalan regulasi yang selama ini masih bermasalah. Pengelolaan Taman Nasional Bunaken yang merupakan kewenangan Kementerian Kehutanan, kini mulai tercemar oleh sampah yang membuat warga setempat frustasi untuk membersihkannya.  

"Kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena Taman Nasional Bunaken ada di bawah kewenangan Kementerian Kehutanan bukan di bawah Pemprov Sulut atau Pemkot Manado," kata Sarundajang.

Menurut dia, pariwisata juga harus didukung dengan infrastruktur, regulasi, dan promosi yang optimal.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau