Kepemimpinan nasional

Paham Materialistis Kikis Karakter Bangsa

Kompas.com - 17/12/2011, 02:11 WIB

PURWOKERTO, KOMPAS - Paham materialistis merupakan pemicu erosi moral yang mengakibatkan tercerabutnya karakter bangsa. Kondisi itu semakin mengikis pilar-pilar kebangsaan dari kalangan elite politik hingga generasi intelektual yang akhirnya berujung pada krisis kepemimpinan nasional.

Demikian benang merah dalam dialog kebangsaan nasional bertema ”Pilar Kebangsaan di Tengah Krisis Kepemimpinan Nasional” yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, Kamis (15/12). Hadir pembicara mantan Rektor Unsoed Rubijanto Misman, pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra, Direktur Jenderal Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan Mayor Jenderal TNI Puguh Santoso, dan Kepala Kepolisian Daerah Jateng Inspektur Jenderal Didiek Sutomo Triwidodo.

Rubijanto mengatakan, kasus-kasus yang terjadi, dari Bank Century, mafia pajak, wisma atlet SEA Games hingga mafia anggaran di DPR yang cenderung menggantung tanpa penyelesaian yang jelas, menjadi bukti pendewaan terhadap sikap materialistis. Hal itu diperparah dengan konflik horizontal antarwarga yang lagi-lagi dipicu persoalan materi. ”Ini jelas menunjukkan krisis kepemimpinan nasional. Masyarakat tidak lagi percaya pemimpin dan elite-elite politik karena tidak berhasil memberi contoh bersikap sebagai negarawan sejati,” ujar Rubijanto.

Yusril Ihza Mahendra menilai saat ini peran negara dalam melindungi segenap bangsa dan Tanah Air patut dipertanyakan. Kekerasan yang cenderung biadab seperti terjadi di sejumlah daerah menunjukkan lemahnya integritas pemimpin dalam memberikan rasa aman masyarakat.

Parahnya lagi, generasi muda juga masih menerapkan standar ganda dalam menyikapi persoalan bangsa. Didiek Sutomo Triwidodo mencontohkan, ketika terjadi bencana di Wasior, Papua Barat, sangat sedikit aksi penggalangan dana. ”Sangat berbeda ketika ada bencana Gunung Merapi. Ini menunjukkan semangat kesukuan masih kental,” ungkap Didiek.

Padahal, kata Puguh Santoso, dalam era globalisasi saat ini, ancaman kedaulatan bangsa tidak lagi bersumber pada aktivitas militer, tetapi justru terhadap ancaman nonmiliter, dari ekonomi, kebudayaan, teknologi, hingga pendidikan. (GRE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau