Bantuan Udara Dikirim

Kompas.com - 18/12/2011, 02:10 WIB

WELLINGTON, SABTU - Selandia Baru mengirim pesawat angkut militer C-130 Hercules untuk menjatuhkan bahan bakar dan peralatan penolong darurat ke kapal Sparta, kapal nelayan Rusia yang membawa belasan awak asal Indonesia, yang terjebak di perairan Antartika, Sabtu (17/12).

Pengiriman bantuan darurat melalui udara dilakukan setelah kapal-kapal penolong baru akan tiba di lokasi kecelakaan paling cepat tiga sampai empat hari mendatang karena posisi Sparta yang sangat jauh dan terpencil, yakni 3.704 kilometer sebelah tenggara Selandia Baru.

Sparta mengirimkan sinyal tanda bahaya, Jumat dini hari, setelah kapal itu menabrak gunung es bawah laut di kawasan Laut Ross, menyebabkan lubang berdiameter 30 sentimeter di dinding kapal yang terletak sekitar 1,5 meter di bawah permukaan air. Air pun masuk ke palka dan kapal sempat miring 13 derajat.

Menurut Koordinator Tim Penyelamat Selandia Baru Chris Wilson, Hercules milik Angkatan Udara Selandia Baru itu baru tiba di lokasi setelah delapan jam penerbangan. Kantor berita Fairfax NZ News yang dikutip RIA Novosti menyatakan, pesawat itu tiba di lokasi Sparta, Sabtu siang, dan menerjunkan tiga paket berisi pompa air dan mesin diesel di dataran es dekat kapal tersebut.

”Pompa kedua ini akan memberi kapasitas lebih besar untuk membuang air, sekaligus menjadi cadangan saat pompa kapal rusak,” kata Wilson.

Begitu jauhnya perjalanan itu, pesawat Hercules tersebut tidak bisa langsung pulang, tetapi harus menginap dulu di lapangan udara di dekat Stasiun Riset McMurdo milik AS di Antartika untuk beristirahat dan mengisi ulang bahan bakar sebelum kembali ke Selandia Baru, Minggu.

Mulai stabil

Kondisi kapal sepanjang 48 meter itu sendiri dikabarkan mulai stabil setelah para awak kembali ke kapal dan mulai bekerja menstabilkan kapal dengan memompa air, menambal lubang, dan menggeser kargo. Sebelumnya, para awak kapal sudah meninggalkan Sparta dengan perahu sekoci karena khawatir kapal itu akan langsung tenggelam.

Kapal yang dioperasikan perusahaan Antei di Vladivostok itu membawa 32 awak yang terdiri atas 15 warga Rusia, 16 warga Indonesia, dan 1 warga Ukraina.

Menurut Sekretaris Eksekutif Komisi Konservasi Sumber Daya Hayati Laut Antartika Andrew Wright, Sparta berada di perairan dekat Kutub Selatan itu untuk mencari ikan toothfish Antartika (Dissostichus mawsoni). ”Lokasi kecelakaan itu sangat terpencil dan alamnya sangat ganas,” tutur Wright.

Beberapa kapal yang berada di sekitar perairan Samudra Antartika sudah mulai bergerak menuju lokasi Sparta. Mereka, antara lain, kapal Chiyo Maru No 3 yang berbendera Rusia dan kapal Sel Jevaer dari Norwegia, yang hanya berjarak 19 mil laut (35,2 km) dari Sparta.

Namun, perjalanan mereka terhalang laut yang penuh dengan bongkahan es. Satu kapal nelayan Selandia Baru, San Aspiring, yang sudah mulai bergerak menuju lokasi kecelakaan, bahkan ditarik kembali karena perjalanan yang terlalu panjang dan berbahaya.

Pemilik Sparta dikabarkan sudah mengontak kapal pemecah es, Araon, milik Korea Selatan, untuk ikut dalam operasi penyelamatan. Namun, kapal Araon saat ini masih di Pelabuhan Lyttelton, Selandia Baru, dan diperkirakan baru akan tiba di lokasi Sparta delapan hari lagi.

”Kami mungkin agak terlambat, tetapi peran kami akan sangat vital, yakni membuka jalan bagi kapal-kapal penolong lain,” tutur kapten Kapal Araon, Kim Hyeon-yool.

Terus dipantau

Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Michael Tene, Kedutaan Besar RI di Wellington, Selandia Baru, terus mengikuti perkembangan situasi di Sparta sejak awal. Menurut Tene, KBRI sudah berkoordinasi dengan pusat koordinasi penyelamat Selandia Baru untuk mengupayakan bantuan kepada para awak kapal.

”Info terakhir, para anak buah kapal dalam keadaan baik, tetapi masih menunggu pertolongan. KBRI akan terus mengikuti perkembangan,” tutur Tene melalui layanan pesan singkat kepada Kompas, Sabtu malam. (AP/AFP/BBC/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau