Pengiriman bantuan darurat melalui udara dilakukan setelah kapal-kapal penolong baru akan tiba di lokasi kecelakaan paling cepat tiga sampai empat hari mendatang karena posisi Sparta yang sangat jauh dan terpencil, yakni 3.704 kilometer sebelah tenggara Selandia Baru.
Sparta mengirimkan sinyal tanda bahaya, Jumat dini hari, setelah kapal itu menabrak gunung es bawah laut di kawasan Laut Ross, menyebabkan lubang berdiameter 30 sentimeter di dinding kapal yang terletak sekitar 1,5 meter di bawah permukaan air. Air pun masuk ke palka dan kapal sempat miring 13 derajat.
Menurut Koordinator Tim Penyelamat Selandia Baru Chris Wilson, Hercules milik Angkatan Udara Selandia Baru itu baru tiba di lokasi setelah delapan jam penerbangan. Kantor berita Fairfax NZ News yang dikutip RIA Novosti menyatakan, pesawat itu tiba di lokasi Sparta, Sabtu siang, dan menerjunkan tiga paket berisi pompa air dan mesin diesel di dataran es dekat kapal tersebut.
”Pompa kedua ini akan memberi kapasitas lebih besar untuk membuang air, sekaligus menjadi cadangan saat pompa kapal rusak,” kata Wilson.
Begitu jauhnya perjalanan itu, pesawat Hercules tersebut tidak bisa langsung pulang, tetapi harus menginap dulu di lapangan udara di dekat Stasiun Riset McMurdo milik AS di Antartika untuk beristirahat dan mengisi ulang bahan bakar sebelum kembali ke Selandia Baru, Minggu.
Kondisi kapal sepanjang 48 meter itu sendiri dikabarkan mulai stabil setelah para awak kembali ke kapal dan mulai bekerja menstabilkan kapal dengan memompa air, menambal lubang, dan menggeser kargo. Sebelumnya, para awak kapal sudah meninggalkan Sparta dengan perahu sekoci karena khawatir kapal itu akan langsung tenggelam.
Kapal yang dioperasikan perusahaan Antei di Vladivostok itu membawa 32 awak yang terdiri atas 15 warga Rusia, 16 warga Indonesia, dan 1 warga Ukraina.
Menurut Sekretaris Eksekutif Komisi Konservasi Sumber Daya Hayati Laut Antartika Andrew Wright, Sparta berada di perairan dekat Kutub Selatan itu untuk mencari ikan toothfish Antartika (Dissostichus mawsoni). ”Lokasi kecelakaan itu sangat terpencil dan alamnya sangat ganas,” tutur Wright.
Beberapa kapal yang berada di sekitar perairan Samudra Antartika sudah mulai bergerak menuju lokasi Sparta. Mereka, antara lain, kapal Chiyo Maru No 3 yang berbendera Rusia dan kapal Sel Jevaer dari Norwegia, yang hanya berjarak 19 mil laut (35,2 km) dari Sparta.
Namun, perjalanan mereka terhalang laut yang penuh dengan bongkahan es. Satu kapal nelayan Selandia Baru, San Aspiring, yang sudah mulai bergerak menuju lokasi kecelakaan, bahkan ditarik kembali karena perjalanan yang terlalu panjang dan berbahaya.
Pemilik Sparta dikabarkan sudah mengontak kapal pemecah es, Araon, milik Korea Selatan, untuk ikut dalam operasi penyelamatan. Namun, kapal Araon saat ini masih di Pelabuhan Lyttelton, Selandia Baru, dan diperkirakan baru akan tiba di lokasi Sparta delapan hari lagi.
”Kami mungkin agak terlambat, tetapi peran kami akan sangat vital, yakni membuka jalan bagi kapal-kapal penolong lain,” tutur kapten Kapal Araon, Kim Hyeon-yool.
Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Michael Tene, Kedutaan Besar RI di Wellington, Selandia Baru, terus mengikuti perkembangan situasi di Sparta sejak awal. Menurut Tene, KBRI sudah berkoordinasi dengan pusat koordinasi penyelamat Selandia Baru untuk mengupayakan bantuan kepada para awak kapal.
”Info terakhir, para anak buah kapal dalam keadaan baik, tetapi masih menunggu pertolongan. KBRI akan terus mengikuti perkembangan,” tutur Tene melalui layanan pesan singkat kepada Kompas, Sabtu malam.