Kelas menengah benar-benar tumbuh di Indonesia. Mereka membutuhkan berbagai produk dalam kehidupan mereka. Orang-orang kreatif dan bekerja keraslah yang bisa menangkap peluang ini.
Riza Komara (36) pemilik PT Loggic Inovation yang bergerak di bidang elektronik dan teknologi informasi. Ia bersama tiga orang lain mendirikan perusahaan tahun 2004 dan sempat berhenti tahun 2006 karena tidak ada proyek. Modal Rp 100 juta untuk biaya operasional diperoleh dari pinjaman dari seorang kawan. Selain itu, para pendiri masing-masing bermodal seperangkat komputer.
Baru pada tahun 2011 hingga kini ada banyak proyek terkait perangkat elektronik. Proyek terbesar di dapat dari PT KAI yang mengganti suku cadang alat-alatnya. Menurut Riza, sebagai bagian dari pemeliharaan, terkait dengan berkembangnya daya tampung PT KAI, kebutuhan suku cadang juga meningkat. Oleh karena itu, kini PT Loggic Inovation telah memiliki total aset Rp 2 miliar.
Johanna Regina Aliandoe (34) sudah tiga tahun ini bergelut dengan desain interior. ”Setiap lihat ada iklan apartemen di Kompas, gue langsung seneng karena bakal ada klien baru,” kata Johanna yang mempromosikan desainnya lewat Facebook dan dari mulut ke mulut. Menurut Johanna, ia hanya bermodal laptop dan meja gambar serta referensi desain yang banyak bisa diunduh dari internet. Komunikasi dengan klien yang umumnya pekerja kerah putih muda banyak dilakukan lewat internet. Target pasarnya adalah pemilik apartemen dengan harga Rp 275 juta-Rp 500 juta.
Hingga kini, Johanna bekerja sendiri dan hanya menggandeng kontraktor untuk mengerjakan desainnya. Namun, karena perkembangan bisnis, tahun 2012 rencananya ia akan mendirikan perusahaan agar bisa lebih berkonsentrasi pada urusan desain. ”Estimasi biaya dan pemasaran bisa gue serahkan kepada orang lain,” kata Johanna.
Bisnisnya kini memang 75 persen diisi dengan mendesain interior apartemen. Menurut dia, generasi pembeli apartemen itu umumnya eksekutif muda yang melek desain. Mereka umumnya membeli apartemen karena alasan kepraktisan kerja atau sekadar investasi. Ledakan bisnis apartemen dilihat Johanna sebagai pintu masuk untuk ia berbisnis. Pasalnya, apartemen dengan ukuran kecil itu membutuhkan furnitur yang sesuai keinginan konsumen. ”Nggak mungkin beli yang ada di toko- toko furnitur,” kata Johanna.
Arif Yunara (35) sempat bekerja di Schlumberger selama empat bulan pada tahun 2001. Namun, hasratnya berwiraswasta lebih kuat. Gajinya selama empat bulan itu ditabung dan digunakan sebagai modal untuk membuat bengkel motor di Bandung. Bengkel itu tutup tahun 2007 karena Arif tidak fokus.
Tahun 2008 ia mulai berbisnis fasilitas pengolahan air dengan seorang kawan. Arif yang lulusan Teknik Fisika ITB menangani instrumentasi, sementara temannya yang lulusan Teknik Kimia ITB menangani proses.
Ia masuk ke beberapa industri yang membutuhkan spesifikasi air tertentu, seperti peternakan atau farmasi. Arif bercerita, walau tidak langsung, percepatan ekonomi menunjang bisnisnya. Omzetnya meningkat 100 persen setiap tahun sejak 2008. Saat ini, Arif yang menamai perusahaannya PT Solusi Tirta Optima itu memiliki 6-7 klien per tahun.