Korea utara

Kim Jong Un Dinilai Masih Belum Siap

Kompas.com - 20/12/2011, 03:07 WIB

SEOUL, MINGGU - Kematian mendadak pemimpin Korea Utara, Kim Jong Il, memicu kekhawatiran terkait kemungkinan gejolak yang bakal terjadi pasca-pergantian pemimpin di negeri dengan kepemilikan senjata nuklir itu. Bisa dipastikan, kekuasaan di negeri itu beralih turun-temurun dari Kim Jong Il kepada ”putra mahkota”-nya, Kim Jong Un.

Kepastian tentang hal itu resmi diumumkan Pemerintah Korut sejak tahun lalu. Kecemasan muncul lantaran sosok Jong Un, anak kedua dari istri ketiga Jong Il, Ko Yong Hui, terlalu muda dan tidak berpengalaman. Jong Un diperkirakan masih berusia menjelang 30 tahun. ”Kita memang harus khawatir. Jika terjadi ketidakstabilan, dampaknya sangat terasa secara eksternal, termasuk memicu provokasi,” tutur Lee Jung-hoon dari Yonsei University, Seoul, Korea Selatan, Senin (19/12).

Kepada stasiun televisi Arirang, Jung-hoon juga menyebutkan bahwa proses regenerasi dan transisi kekuasaan belum tuntas dilakukan. Hal itu menempatkan Korut dalam posisi dan kondisi tidak stabil. Kekhawatiran ini beralasan mengingat sangat sedikit yang diketahui dunia tentang Jong Un.

Jong Un juga diketahui pernah bersekolah di Swiss, gemar olahraga basket dan ski, serta merupakan penggemar bintang laga Hollywood, Jean-Claude Van Damme. Ia ”dihadiahi” pangkat tertinggi militer, bintang empat. Jong Il diyakini mempersiapkan putranya sejak terserang stroke tahun 2008. Kondisi kesehatan Jong Il juga diyakini semakin buruk setelah diduga terkena kanker pankreas.

Dukungan ipar

Namun, mantan Menteri Unifikasi Korea dari pihak Korsel, Jeong Se-hyun, mengaku yakin proses transisi kekuasaan dan kepemimpinan akan berlangsung bertahap, dengan Jong Un didampingi kerabat kandungnya. Se-hyun yakin proses pendampingan Jong Un akan ditangani adik kandung satu-satunya dari sang ayah, Kim Kyong Hui, bersama suaminya, Jang Song Thaek. Keduanya akan berperan penting mempersiapkan Jong Un.

Yang Moo-jin dari University of North Korean Studies di Seoul menambahkan, Kyong Hui dan Song Thaek juga akan didukung Panglima Angkatan Bersenjata Korut Ri Yong Ho.

Song Thaek sempat mencoba memperluas pengaruh di pemerintahan dengan menjabat Wakil Ketua Komisi Pertahanan Nasional ketika Jong Il terserang stroke. Namun, kariernya cacat akibat skandal dugaan korupsi yang dia lakukan tahun 2004. Song Thaek dihukum bekerja di pabrik baja.

Sementara Kyong Hui dipromosikan menjadi jenderal militer bintang empat bersama dengan Jong Un, September tahun lalu. Jong Il memang memproyeksikan adik kandungnya itu agar memiliki peran signifikan dalam pemerintahan.

Pemberian pangkat tertinggi di militer, terutama kepada Jong Un, dilakukan untuk memastikan tidak bakal terjadi gejolak dan kemungkinan kudeta dari pihak militer lantaran Jong Un dan militer berada di ”satu kapal” yang sama. (AFP/BBC/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau